Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

10/06/2024

Anafilaksis: Tinjauan Komprehensif Mengenai Reaksi Alergi Sistemik yang Mengancam Jiwa

Anafilaksis merupakan manifestasi reaksi alergi hipersensitivitas tipe cepat yang bersifat sistemik dan berpotensi fatal. Kondisi ini terjadi secara mendadak, sering kali dalam hitungan detik hingga menit pasca-paparan alergen, dan melibatkan kegagalan pada berbagai sistem organ tubuh, termasuk sistem pernapasan dan kardiovaskular. Tanpa intervensi medis yang segera dan tepat, anafilaksis dapat berujung pada syok anafilaktik dan kematian.

Patofisiologi dan Mekanisme Sensitisasi Reaksi anafilaksis umumnya didahului oleh fase sensitisasi, di mana sistem imun tubuh telah terpapar antigen tertentu di masa lalu. Pada paparan ulang, sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan dengan memproduksi antibodi Imunoglobulin E (IgE) yang spesifik. Interaksi antara antigen dan IgE ini memicu pelepasan mediator kimiawi poten, seperti histamin, dari sel mast dan basofil ke dalam sirkulasi darah. Pelepasan mediator inilah yang menyebabkan manifestasi klinis berupa vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular, dan kontraksi otot polos, yang berdampak pada organ vital.

Etiologi dan Faktor Pemicu Berbagai substansi dapat bertindak sebagai pemicu (alergen), bahkan dalam jumlah yang sangat kecil. Pemicu umum meliputi:

  1. Obat-obatan: Baik obat resep maupun obat bebas (over-the-counter).

  2. Sengatan Serangga: Racun dari lebah, tawon, atau semut api.

  3. Makanan: Terutama sumber protein tinggi seperti makanan laut (ikan, kerang), kacang-kacangan, telur, susu, gandum, dan produk kedelai.

  4. Bahan Tambahan Pangan: Seperti sulfit.

  5. Produk Medis: Transfusi darah, lateks (karet alami), dan media kontras radiologi.

Penting dicatat bahwa riwayat atopi (seperti asma, eksem, atau rinitis alergi) dapat meningkatkan risiko keparahan reaksi, meskipun pemicu spesifik tidak selalu dapat diidentifikasi pada setiap kasus (anafilaksis idiopatik).

Manifestasi Klinis Gejala klinis anafilaksis bervariasi namun umumnya melibatkan minimal dua sistem organ:

  • Dermatologis: Urtikaria (biduran), eritema (kemerahan), pruritus (gatal hebat), serta angioedema (pembengkakan) pada wajah, mata, bibir, atau lidah.
  • Respirasi: Edema laring yang menyebabkan suara parau, stridor, dispnea (sesak napas), mengi (wheezing), batuk, dan kongesti nasal.
  • Kardiovaskular: Hipotensi (tekanan darah rendah) yang memicu syok, takikardia (detak jantung cepat) atau aritmia, pusing, hingga sinkop (pingsan).
  • Gastrointestinal: Mual, muntah, diare, dan kram abdomen.
  • Neurologis/Psikologis: Kecemasan akut, kebingungan, dan perasaan "mendekati kematian" (sense of impending doom).

Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Anafilaksis adalah kegawatdaruratan medis absolut. Langkah awal yang krusial meliputi:

  1. Aktivasi Sistem Gawat Darurat: Segera bawa pasien ke Unit Gawat Darurat (UGD) atau panggil ambulans.

  2. Eliminasi Alergen: Hentikan paparan terhadap pemicu jika memungkinkan.

  3. Posisi Pasien: Baringkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi (posisi Trendelenburg) untuk membantu aliran darah ke otak, kecuali jika terdapat gangguan napas berat.

  4. Farmakoterapi Awal:

    • Epinefrin (Adrenalin): Merupakan lini pertama pengobatan. Jika tersedia sediaan autoinjektor (seperti EpiPen), segera injeksikan secara intramuskular (biasanya di paha luar). Epinefrin bekerja cepat vasokonstriksi pembuluh darah dan bronkodilatasi saluran napas.
    • Antihistamin dan Bronkodilator: Dapat diberikan sebagai terapi tambahan, namun tidak menggantikan urgensi pemberian epinefrin.

Intervensi Medis Lanjut Di fasilitas kesehatan, prioritas penanganan meliputi manajemen jalan napas (airway), pemberian oksigenasi adekuat, dan stabilisasi hemodinamik melalui resusitasi cairan intravena. Terapi farmakologis lanjutan dapat mencakup pemberian kortikosteroid untuk mencegah reaksi fase lambat (biphasic reaction), penghambat reseptor H1 dan H2, serta vasopresor (seperti dopamin) jika hipotensi menetap. Observasi ketat di rumah sakit direkomendasikan minimal selama 6 jam pasca-kejadian.

Pencegahan dan Edukasi Pasien dengan riwayat anafilaksis disarankan untuk selalu membawa injektor epinefrin mandiri, mengenakan gelang identitas medis, dan melakukan penghindaran ketat terhadap alergen yang diketahui. Konsultasi dengan spesialis alergi-imunologi sangat dianjurkan untuk evaluasi lebih lanjut, termasuk uji kulit (skin prick test) atau desensitisasi jika diperlukan.

Referensi:

Authors and Editors

Author: Jerry R. Balentine, DO, FACEP
Editor: Melissa Conrad Stöppler, MD
Previous contributing authors and editors: John A Calomeni, MD, JD, Consulting Staff, Department of Emergency Medicine, Seton Medical Center; Scott H Plantz, MD, FAAEM, Research Director, Assistant Professor, Department of Emergency Medicine, Mount Sinai School of Medicine; Francisco Talavera, PharmD, PhD, Senior Pharmacy Editor, eMedicine; Anthony Anker, MD, FAAEM, Attending Physician, Emergency Department, Mary Washington Hospital, Fredericksburg, VA.

http://www.emedicinehealth.com/severe_allergic_reaction_anaphylactic_shock/article_em.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar