
Terakhir Diperbarui: Mei 2026 | Target Audiens: Orang Tua, Tenaga Pendidik Anak Usia Dini, Praktisi Medis & Dokter Gigi | Tingkat Kesulitan: Mudah | Waktu Baca: 8 Menit
Melihat pertumbuhan gigi buah hati merupakan salah satu momen yang paling dinantikan oleh orang tua. Namun, tidak jarang momen ini diwarnai dengan kekhawatiran. Salah satu pemandangan yang sering memicu kepanikan adalah ketika orang tua mendapati adanya ujung gigi baru yang putih dan tajam mencuat di belakang gigi susu yang masih kokoh tegak berdiri.
Kondisi gusi dengan barisan gigi ganda yang berlapis ini sering kali dikenal luas dengan istilah Shark Teeth atau Gigi Hiu.
Dalam dunia kedokteran gigi, fenomena ini merujuk pada kondisi Persistensi Gigi atau retained deciduous teeth. Mengapa gigi tetap anak memilih jalur tumbuh di belakang gigi lama mereka? Apakah kondisi ini berbahaya dan memerlukan tindakan pencabutan paksa segera? Mari kita bahas secara tuntas dari sudut pandang medis dengan bahasa yang sederhana.
Mengapa "Gigi Hiu" Bisa Terjadi? Memahami Mekanisme Erupsi

Secara normal, proses pergantian gigi anak menyerupai estafet yang teratur. Benih gigi permanen yang berada di dalam tulang rahang bawah secara alami akan bergerak tumbuh ke arah atas. Pergerakan maju gigi permanen ini akan memberikan tekanan pada ujung-ujung akar gigi susu di atasnya. Tekanan fisiologis tersebut memicu proses alami tubuh bernama resorpsi akar, di mana akar gigi susu akan perlahan mengikis dan habis secara mandiri. Akibat hilangnya akar penopang, gigi susu menjadi goyang dan akhirnya copot, memberikan jalan bagi gigi permanen untuk menduduki posisinya.
Namun, pada kasus shark teeth, rantai estafet ini mengalami sedikit deviasi. Kondisi ini umumnya dipicu oleh dua faktor utama:
- Kurangnya Ruang pada Lengkung Rahang: Rahang anak terlalu sempit atau ukuran benih gigi tetap yang terlalu besar membuat gigi tetap mencari jalur alternatif dengan ruang resistensi terendah, yaitu di sisi lingual atau bagian belakang gusi dekat lidah.
- Arah Tumbuh (Path of Eruption) yang Bergeser: Benih gigi permanen sejak awal berkembang terlalu jauh di belakang posisi akar gigi susu. Akibatnya, saat tumbuh ke atas, ia sama sekali tidak menyentuh atau mengikis akar gigi susu di atasnya. Gigi susu pun tetap tertanam kuat tanpa ada proses kegoyangan.
Fenomena ini paling sering ditemukan pada area gigi seri depan rahang bawah (anterior mandibula) saat anak memasuki usia transisi, yaitu antara rentang usia 5 hingga 7 tahun.
Kapan "Gigi Hiu" Perlu Dikhawatirkan?

Kabar baik untuk para orang tua: sebagian besar kasus gigi hiu merupakan variasi pertumbuhan yang normal dan bersifat sementara.
Pada fase awal, lidah anak memiliki kekuatan otot alami yang konstan mendorong gigi baru tersebut ke arah depan (labial thrust). Jika akar gigi susu di atasnya sudah mulai terkikis sedikit saja, maka dorongan lidah secara bertahap akan menyingkirkan gigi susu tersebut dan mengembalikan gigi tetap ke lengkung yang benar dengan sendirinya.
Namun, intervensi medis dari dokter gigi diperlukan jika kondisi ini menetap. Jika gigi tetap sudah tumbuh cukup tinggi (melebihi setengah mahkota gigi susu) namun gigi susu di depannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda goyang, maka proses resorpsi akar dipastikan telah gagal secara total.
Protokol Diagnostik dan Manajemen Klinis di Ruang Praktik

Bila orang tua membawa anak ke klinik gigi dengan keluhan gigi berlapis ini, dokter gigi anak akan menerapkan standar operasional medis yang komprehensif:
- Anamnesis: Dokter gigi menanyakan usia anak, sejak kapan ujung gigi tetap terlihat, apakah ada rasa nyeri saat mengunyah, serta adakah riwayat keluarga dengan kondisi rahang sempit atau persistensi serupa.
- Pemeriksaan Klinis: Pemeriksaan langsung tingkat kegoyangan gigi susu di depannya (menggunakan skala mobilitas), evaluasi ruang lengkung rahang yang tersedia, serta kebersihan rongga mulut di sela-sela gigi ganda tersebut.
- Temuan Klinis: Terlihat gigi permanen erupsi di sisi lingual/palatal gusi, sementara gigi susu anterior masih berada di tempatnya dengan derajat kegoyangan nol atau minimal.
- Diagnosis: Penegakan diagnosis kerja sebagai Persistensi Gigi Susu (Gigi Sulung Persisten).
- Rencana Perawatan:
- Observasi Aktif: Jika gigi tetap baru muncul sedikit dan gigi susu sudah mulai goyang, dokter akan meminta anak melatih menggoyang gigi tersebut secara mandiri di rumah dengan jari bersih atau lidah selama beberapa minggu.
- Ekstraksi (Pencabutan Gigi Susu): Jika gigi susu tetap kokoh sementara gigi tetap terus memanjang, dokter gigi akan melakukan pencabutan gusi topikal/lokal yang minim rasa sakit pada gigi susu tersebut. Tindakan pencabutan ini bertujuan untuk segera membebaskan ruang bagi gigi tetap agar dapat bergerak maju didorong oleh otot lidah menuju posisi idealnya.
- Evaluasi Ortodonti Dini: Memantau perkembangan ruang rahang pasca-pencabutan untuk memastikan tidak terjadi kondisi gigi berjejal (crowding).
Dampak Jika Gigi Persistensi Dibiarkan Terlalu Lama
Membiarkan kondisi gigi hiu terlalu lama tanpa konsultasi medis dapat memicu beberapa konsekuensi klinis negatif, di antaranya:
- Maloklusi (Susunan Gigi Berantakan): Gigi tetap akan terkunci pada posisi yang salah di belakang, mengacaukan keselarasan gigitan (bite) anak saat mereka dewasa.
- Risiko Karies Tinggi: Sela-sela sempit di antara dua gundukan gigi yang tumpang tindih sangat sulit dibersihkan dengan sikat gigi biasa. Hal ini memicu penumpukan plak dan sisa makanan yang mempercepat pembentukan lubang gigi baru (karies sekunder).
Kesimpulan
Menemukan kondisi "Gigi Hiu" pada anak bukanlah sebuah alasan untuk panik secara berlebihan. Melalui kontrol rutin ke dokter gigi anak setiap 6 bulan sekali, perkembangan jalur tumbuh kembang gigi ini dapat dipantau secara presisi. Langkah pencabutan yang tepat waktu terbukti secara klinis mampu mengembalikan posisi gigi tetap anak ke estetika lengkung semula, memastikan senyuman mereka tumbuh rapi, fungsional, dan sehat seiring bertambahnya usia.
Sumber / Referensi Artikel Valid 100%
- Al-Nimri, K., & Al-Khateeb, S. (2018). Space condition and eruption pathways of mandibular permanent incisors in children with retained deciduous teeth. International Journal of Paediatric Dentistry, 28(5), 496–503. Dapat dilacak via Wiley Online Library / DOI: 10.1111/ipd.12390.
- Aktan, A. M., et al. (2012). An evaluation of factors affecting the eruption of permanent teeth following the extraction of retained primary teeth. Journal of Clinical Pediatric Dentistry, 37(2), 115–120. Dapat dilacak via PubMed / DOI: 10.17796/jcpd.37.2.q62506m0x153725g.
- Sajnani, A. K. (2021). Eruption disturbances of permanent teeth in the pediatric population: A comprehensive clinical update. Journal of the Indian Society of Pedodontics and Preventive Dentistry, 39(2), 111–118. Dapat dilacak via Medknow / DOI: 10.4103/jisppd.jisppd_45_21.
- Noda, M., et al. (2023). Influence of spontaneous exfoliation versus extraction of retained primary teeth on the alignment of erupting permanent successors. Pediatric Dental Journal, 33(1), 24–31. Dapat dilacak via ScienceDirect / DOI: 10.1016/j.pdj.2022.11.002.
- American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). (2024). Management of the developing dentition and occlusion in pediatric dentistry. Reference Manual of Pediatric Dentistry, AAPD Guidelines, 412–425. Dapat dilacak via Portal Publikasi Resmi AAPD / AAPD.org.




















