Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

04/08/2026

Manajemen Perilaku Non-Farmakologis: Teknik Tell-Show-Do yang Efektif untuk Tipe Anak "Defiant"

Dokter gigi anak sedang mempraktikkan teknik tell-show-do dengan mengenalkan alat pada tangan anak sebelum perawatan

Terakhir Diperbarui: 21 Mei 2026 | Target Audiens: Orang Tua, Dokter Gigi, Perawat Gigi, Tenaga Kesehatan | Tingkat Kesulitan: Menengah | Waktu Baca: ± 9 Menit

Manajemen Perilaku Non-Farmakologis: Teknik Tell-Show-Do yang Efektif untuk Tipe Anak "Defiant"

Bagi sebagian orang tua, jadwal kunjungan ke dokter gigi bisa terasa seperti mempersiapkan diri untuk sebuah pertempuran. Begitu tiba di klinik, anak mungkin akan menangis histeris, menolak duduk di kursi periksa, menyilangkan tangan erat-erat, hingga mengunci rahangnya rapat-rapat. Dalam dunia kedokteran gigi anak, perilaku perlawanan aktif ini dikenal dengan istilah perilaku "Defiant" (menantang atau berontak).

Menghadapi anak dengan tipe perilaku ini sering kali membuat orang tua merasa stres dan bersalah. Namun, penting untuk dipahami bahwa anak menjadi defiant bukan karena mereka nakal, melainkan sebagai bentuk pertahanan diri akibat rasa takut yang luar biasa terhadap hal yang tidak mereka ketahui (fear of the unknown).

Untuk mengatasi kondisi ini tanpa harus langsung menggunakan obat penenang (sedasi farmakologis), dokter gigi anak dibekali dengan berbagai teknik manajemen perilaku. Salah satu teknik non-farmakologis yang paling legendaris, aman, dan terbukti secara ilmiah ampuh adalah Teknik Tell-Show-Do (TSD). Mari kita kupas tuntas bagaimana keajaiban metode ini bekerja secara psikologis pada anak.

Apa Itu Tipe Anak "Defiant"?

Berdasarkan Skala Penilaian Perilaku Frankl (Frankl Behavior Rating Scale), anak tipe defiant masuk ke dalam kategori sangat negatif (Rating 1). Karakteristik utama anak tipe ini adalah:

  • Sangat menolak perawatan secara terang-terangan.
  • Menangis keras dan meronta-ronta (temper tantrum).
  • Sering mengucapkan penolakan secara verbal (contoh: "Aku nggak mau!", "Pulang!").
  • Berusaha meraih atau menepis tangan dokter gigi yang sedang memegang alat.

Anak tipe ini membutuhkan pendekatan yang tegas namun tetap lembut, yang dapat mengembalikan rasa kendali (sense of control) mereka terhadap situasi di sekelilingnya. Di sinilah teknik TSD mengambil peran utama.

Membedah Teknik "Tell - Show - Do" (TSD)

Konsep Tell-Show-Do pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Addelston pada tahun 1959 dan hingga kini menjadi "standar emas" dalam manajemen kecemasan anak. Teknik ini secara perlahan mengurai rasa takut anak melalui tiga tahapan logis:

1. TELL (Beri Tahu)

Dokter gigi anak sedang mempraktikkan teknik tell-show-do dengan mengenalkan alat pada tangan anak sebelum perawatan

Pada tahap ini, dokter gigi menjelaskan prosedur yang akan dilakukan menggunakan bahasa anak (pediatric euphemism) atau bahasa kiasan yang tidak mengancam. Aturan utamanya adalah menghindari kata-kata yang memicu trauma (seperti: sakit, jarum, suntik, bor, atau cabut).

  • Bor gigi diubah menjadi "sikat gigi elektrik" atau "pesawat kecil penyapu kuman".
  • Jarum/Suntikan diubah menjadi "air tidur gusi" atau "gigitan semut".
  • Suction (penyedot air liur) diubah menjadi "sedotan gajah" atau "penyedot debu kecil".

2. SHOW (Tunjukkan)

Dokter gigi anak sedang mempraktikkan teknik tell-show-do dengan mengenalkan alat pada tangan anak sebelum perawatan

Anak yang defiant biasanya tidak mudah percaya hanya dengan kata-kata. Oleh karena itu, dokter harus mendemonstrasikan alat tersebut di luar mulut anak (biasanya di punggung tangan anak, di tangan dokter, atau di atas model gigi mainan). Misalnya, dokter menyalakan bor (handpiece) dan memutarnya di atas kuku anak secara lembut. Anak akan melihat, mendengar suaranya yang mendengung, dan merasakan sensasi getarannya. Tahap ini mengubah "monster yang menakutkan" menjadi sesuatu yang nyata, dapat diprediksi, dan terbukti tidak menyakitkan.

3. DO (Lakukan)

Dokter gigi anak sedang mempraktikkan teknik tell-show-do dengan mengenalkan alat pada tangan anak sebelum perawatan

Tanpa jeda waktu yang terlalu lama dari tahap Show (agar anak tidak sempat kembali cemas), dokter segera mempraktikkan prosedur tersebut di dalam mulut anak secara cepat dan tepat, persis sama seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya. Kepercayaan anak akan terbentuk ketika realitas yang terjadi di dalam mulutnya sama amannya dengan yang ia rasakan di tangannya.

Alur Keputusan Klinis dan Rencana Perawatan dengan Teknik TSD

Penerapan teknik Tell-Show-Do tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam alur pemeriksaan dan perawatan gigi anak:

  • Anamnesis: Orang tua mengeluhkan gigi anak berlubang namun menginformasikan bahwa anak sangat trauma, pernah menangis histeris di klinik sebelumnya, dan selalu menolak setiap kali diajak untuk diperiksa giginya.
  • Pemeriksaan Klinis dan Temuan Klinis:

    • Aspek Perilaku: Anak menolak masuk ruangan, menangis keras, menyilangkan tangan di dada, dan menolak membuka mulut (Frankl Rating 1 / Defiant).
    • Aspek Intraoral (setelah anak berhasil dibujuk buka mulut): Terdapat lesi karies (gigi berlubang) mencapai dentin pada gigi geraham desidui yang memerlukan pembersihan jaringan dan penambalan.
  • Diagnosis:

    1. Karies Dentin pada gigi desidui.
    2. Dental Anxiety (Kecemasan Dental) dengan manifestasi perilaku Defiant.

  • Rencana Perawatan:

    1. Manajemen Perilaku: Penggunaan pendekatan non-farmakologis, yaitu teknik Tell-Show-Do untuk membangun komunikasi dua arah dan mendesensitisasi rasa takut anak terhadap instrumen dental (kaca mulut, bor, dan suction). Teknik ini dipadukan dengan Positive Reinforcement (memberikan pujian/hadiah saat anak mulai kooperatif).
    2. Perawatan Kuratif: Ekskavasi (pembersihan) jaringan karies gigi dan dilanjutkan dengan restorasi (penambalan) menggunakan Glass Ionomer Cement (GIC) atau resin komposit.
    3. Edukasi pemeliharaan kebersihan gigi di rumah.

Dokter gigi anak sedang mempraktikkan teknik tell-show-do dengan mengenalkan alat pada tangan anak sebelum perawatan

Kesimpulan: Membangun Kepercayaan adalah Kunci

Menghadapi anak dengan perilaku defiant bukanlah tentang adu kekuatan atau pemaksaan. Teknik Tell-Show-Do mengajarkan kepada kita bahwa penolakan anak sering kali hanyalah tabir dari rasa takut akan ketidaktahuan. Dengan menjelaskan secara sederhana, menunjukkan secara jujur namun ramah, dan melakukan tindakan sesuai janji, dokter gigi tidak hanya berhasil merawat gigi yang sakit, tetapi juga "merawat" psikologis anak.

Sebagai orang tua, Anda juga dapat menerapkan teknik ini di rumah, misalnya saat mencoba memperkenalkan sikat gigi baru atau saat membujuk anak minum obat!

Sumber / Referensi Valid 100%:

  1. American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). (2020). Behavior Guidance for the Pediatric Dental Patient. Chicago: AAPD Reference Manual. Dokumen kebijakan klinis internasional yang menjabarkan teknik Tell-Show-Do sebagai lini pertama dalam pedoman bimbingan perilaku anak di ruang praktik.
  2. Wright, G. Z., & Kupietzky, A. (2014). Behavior Management in Dentistry for Children (2nd Edition). Wiley-Blackwell. Buku panduan standar emas di bidang kedokteran gigi anak yang mengupas anatomi psikologis anak tipe defiant dan cara menaklukkannya.
  3. Dean, J. A. (2021). McDonald and Avery's Dentistry for the Child and Adolescent (11th Edition). Elsevier. Buku teks literatur klinis yang merangkum sejarah penggunaan Skala Frankl dan efektivitas aplikasi Tell-Show-Do (Pediatric Euphemism).
  4. Al-Bitar, K. F., Sonbol, H. N., & Al-Omari, M. A. (2021). Tell-Show-Do and behavior management: A review of current strategies in pediatric dentistry. Journal of Pediatric Dentistry, 43(2), 115-121. Jurnal ilmiah yang membuktikan bahwa desensitisasi visual (Show) secara signifikan menurunkan detak jantung (indikator stres) pada anak sebelum prosedur.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). (2022). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Gigi. Jakarta: Kemenkes RI. Panduan penatalaksanaan standar di Indonesia yang mewajibkan dokter gigi anak melakukan manajemen perilaku dasar (Basic Behavior Management), termasuk TSD, sebelum merujuk ke opsi farmakologis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar