Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

10/06/2024

Deteksi Dini Keterlambatan Perkembangan Bahasa dan Bicara pada Anak Usia Dua Tahun

Perkembangan kemampuan berbahasa dan berbicara merupakan salah satu indikator krusial dalam memantau tumbuh kembang anak, khususnya saat mereka menginjak usia dua tahun. Pada fase ini, orang tua dan praktisi kesehatan perlu memberikan perhatian khusus terhadap pencapaian tonggak perkembangan (milestones) komunikasi anak, mengingat keterlambatan pada aspek ini dapat menjadi penanda adanya kondisi medis atau perkembangan yang memerlukan intervensi lebih lanjut.

Secara umum, anak yang berkembang sesuai jalurnya pada usia dua tahun diharapkan telah memiliki penguasaan kosakata minimal 50 kata. Lebih dari sekadar kuantitas kata, kemampuan untuk merangkai dua kata atau lebih menjadi kalimat sederhana—seperti "mau minum" atau "mama pergi"—merupakan parameter perkembangan yang signifikan. Jika seorang anak pada usia ini belum menunjukkan kemampuan tersebut, atau memiliki perbendaharaan kata yang sangat terbatas, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai keterlambatan bicara (speech delay) atau keterlambatan bahasa (language delay).

Penting untuk membedakan antara 'bicara' dan 'bahasa'. Bicara merujuk pada ekspresi verbal atau kemampuan fisik untuk memproduksi suara dan kata-kata, sedangkan bahasa mencakup sistem yang lebih luas dalam memberi dan menerima informasi secara bermakna. Anak dengan keterlambatan bicara mungkin menggunakan kata-kata dan frasa namun sulit dimengerti, sementara anak dengan keterlambatan bahasa mungkin dapat mengucapkan kata dengan jelas namun kesulitan dalam menggabungkannya untuk mengekspresikan gagasan.

Terdapat beberapa "tanda waspada" (red flags) yang perlu diperhatikan oleh orang tua maupun tenaga medis pada anak usia dua tahun:

  1. Keterbatasan Kosakata: Menggunakan kurang dari 50 kata.

  2. Ketidakmampuan Merangkai Kata: Belum mampu menggabungkan dua kata menjadi kalimat sederhana secara spontan (bukan sekadar membeo atau echolalia).

  3. Kesulitan Pemahaman: Kesulitan mengikuti instruksi sederhana atau tidak merespons ketika namanya dipanggil.

  4. Ketergantungan Non-Verbal: Lebih banyak menggunakan gestur tubuh daripada kata-kata untuk berkomunikasi.

Penyebab keterlambatan ini bervariasi, mulai dari faktor yang bersifat sementara hingga kondisi medis yang lebih kompleks. Gangguan pendengaran seringkali menjadi penyebab utama yang terabaikan; anak yang mengalami kesulitan mendengar tentu akan mengalami hambatan dalam meniru, memahami, dan menggunakan bahasa. Selain itu, faktor anatomis pada rongga mulut (seperti kelainan lidah atau langit-langit), gangguan spektrum autisme, atau kurangnya stimulasi verbal dari lingkungan juga dapat menjadi faktor kontributor.

Langkah antisipatif sangat diperlukan. Jika dicurigai adanya keterlambatan, konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak atau Dokter Gigi Anak (untuk menyingkirkan kelainan orofasial) adalah langkah awal yang tepat. Evaluasi lebih lanjut mungkin melibatkan Terapis Wicara (Speech Therapist) untuk penilaian komprehensif dan penyusunan program terapi yang sesuai. Intervensi dini terbukti sangat efektif dalam membantu anak mengejar ketertinggalan perkembangannya dan mencegah dampak jangka panjang pada kemampuan sosial serta akademik mereka di masa depan.

SOURCE: Society of Research in Child Development, news release, June 17, 2011

Referensi:
1. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_113343.html
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Language
3. http://philosophy.lander.edu/logic/form_lang.html
4. http://www.answers.com/topic/language

4 komentar:

  1. Anonymous28/6/11 19:13

    Ini terjemahan tulisan inggris link pertama ya? Secara struktur ga ada yg salah dari kalimat2nya, tapi secara feel ga kerasa bahwa ini tulisan Indonesia :P

    anw, komen ttg artikelnya, hmm apa yaa, byk sih yg bqn penasaran sebenernya, misal
    1. tempat pembinaan itu apaan yak
    2. kalau sebelum 2 taun dijejali diajari 3 bahasa skaligus, misalnya, kecepatan belajarnya ngaruh ga ya
    3. makin cepet bisa ngomong, ngaruh kah ke makin cepet bisa nulis (tau sendiri bahasa inggris mah aneh nulisnya gimana bacanya gimana)
    4. otak anak 22 bulan sm 24 bulan bedanya apanya ya
    5. kok label postny dentistry, emg dentistry itu mencakup apaan aja? :D

    BalasHapus
  2. Iya, saya juga merasa terjemahan saya masih jauh dari nyaman dibaca. Sebenarnya lebih enak baca bahasa Inggrisnya langsung, lebih mudeng, tapi menulisnya kembali ke bahasa Indonesia adalah tantangan tersendiri. Sekarang saya mau coba jawab pertanyaannya:
    1. Tempat binaan: itu aslinya dari kata foster care. Harusnya ditulis foster care aja kali ya, soalnya kalau di Indonesia belum ada tempat seperti itu. Kan jarang diberitakan ada orang tua yang mengadopsi anak-anak dari luar negeri. Disini mah keluarga berekstensi ke samping tanpa harus memikirkan risiko ledakan penduduk.
    2. Kalau sebelum 2 taun dijejali diajari 3 bahasa skaligus, misalnya, kecepatan belajarnya ngaruh ga ya. Jawabnya enggak. Justru usia segitu adalah golden age-nya anak-anak. jadi, nanti kalau punya anak, ajarilah tutur kata yang sopan dan dirangsang terus bahasanya. Cuma...kalau misalnya bahasa itu jarang atau tidak digunakan, maka anak-anak akan cepat lupa, belajar bahasa itu seperti pakai baju. Harus dilakukan terus menerus. Kita nggak pernah mikir mau masukin lengan kemana, masukin kanding kemana karena udah biasa. Bahasa juga seharusnya gitu. (Pssst...saya nulisnya campur-campur karena itu buat latihan bahasa saya loh. Soalnya bahasa Inggris saya ancuuurrr macam bubur).
    3. Makin cepet bisa ngomong, ngaruh kah ke makin cepet bisa nulis (tau sendiri bahasa inggris mah aneh nulisnya gimana bacanya gimana). Jawabannya ini mirip sama jawaban no 2. Kalau belajar bahasa itu audio, nah kalo nulis itu visual dan kinestetik. Sebaiknya punya tembok putih yang luas biar junior bisa corat-coret tembok sesukanya tanpa harus mengobrak-abrik sofa putih kesayangan. Tenang, bahasa Inggris itu menyenangkan ko. Coba bandingkan dengan bahasa Rusia, Tajikistan (semuanya konsonan), Prancis ataupun Jerman. Hah! Kalau mau tulisan sama dengan cara bacanya: coba bahasa Jepang dan bahasa Jawa (kesulitannya adalah pada bahasa tulisnya). Hah lagi! Tulisan dan bacanya beda: coba bahasa China
    4. otak anak 22 bulan sm 24 bulan bedanya apanya ya? Kalau dari volume kayaknya sama, tapi sampai usia 2 tahun, rangsangan audio, visual dan kinestetik sangat berperan pada perkembangan anak. Saya bukan ahlinya siy. nanti kalo ada topik tentang ini, saya coba share ya.
    5. kok label postny dentistry, emg dentistry itu mencakup apaan aja? :D. Jadi, kedokteran gigi itu sebenarnya luas, saya sebutkan beberapa ya, ada kesehatan gigi anak (pertumbuhan dan perkembangan gigi anak dihubungkan dengan pertumbuhan dan perkembangan pada umumnya), kesehatan gigi masyarakat (penyuluhan pas KKN mahasiswa, skrining ke SD atau SMP), kedokteran gigi dasar (termasuk pelajaran anatomi, histologi, fisiologi), penyakit mulut (dari bau mulut, sariawan, herpes, sampai kanker mulut), ortodonsi (itu yang kerjanya ngawat gigi biar rapi supaya dilirik sama anak-anak perempuan yang manis), perio (jaringan penyangga gigi), dan masih banyak lagi. Hahaha! Saya jadi kebawa suasana mau membicarakan SKS-nya.

    BalasHapus
  3. Diluar negeri soalnya rata-rata active native languagenya emang lebih dari 1. secara perbatasan negara yang saling menghimpit. Kaya TS gw di Belanda, fasih bicara Belanda, Jerman dan Inggris. Karena komunitas sekitarnya berbahasa fasih itu juga, dan batas negara yang berdekatan.
    Tapi menurut penelitian, makin banyak bahasa asing yang dikuasai, makin terangsang otak kanan [apa kiri, ya?], yang bisa meningkatkan daya ingat seseorang. Kaya Soekarno (alm) misalnya.. Salam..

    BalasHapus
  4. Anonymous3/7/11 02:31

    I see, jadi yg sy tangkep mah anak di bawah 2 taun mah coba jejalin ajarin aja macem-macem ya mumpung golden age. Hehe nanya poin 4 itu soalnya penasaran sm ksimpulan artikel ini, kenapa kok anak 22 bulan sm anak 24 bulan bs beda hasilnya, mungkin ada sesuatu yg berbeda di otaknya.

    BalasHapus