Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

08/10/2011

Analisis Risiko dan Penanganan Fraktur Intraoperatif pada Prosedur Ekstraksi Gigi

Dalam prosedur pencabutan gigi (ekstraksi), risiko terjadinya patah atau fraktur—baik pada akar gigi, gigi tetangga, gigi lawan (antagonis), restorasi, tulang alveolar, hingga tulang rahang (mandibula)—merupakan komplikasi intraoperatif yang perlu diantisipasi. Etiologi utama dari seluruh jenis fraktur ini umumnya bermuara pada satu faktor: penggunaan tekanan yang berlebihan atau tidak terkontrol.

Oleh karena itu, kunci pencegahan yang paling efektif, selain mengaplikasikan tekanan yang terukur, adalah melakukan analisis radiografis (foto rontgen) pra-pembedahan secara cermat. Kondisi anatomi akar yang melengkung (dilaserasi), rapuh, atau gigi yang telah menjalani perawatan saluran akar (endodontik) sering kali menuntut modifikasi rencana perawatan, mulai dari teknik pencabutan sederhana hingga prosedur pembedahan terbuka (open flap).

Manajemen Sisa Akar dan Fragmen Gigi

Saat terjadi fraktur akar, pertanyaan klinis mendasar yang harus dijawab adalah: Apakah fragmen tersebut harus dikeluarkan?

Sisa akar merupakan bagian dari struktur normal tubuh yang umumnya dapat ditoleransi dengan baik oleh jaringan sekitarnya dan jarang memicu reaksi penolakan atau infeksi. Keputusan untuk melakukan pengambilan harus didasarkan pada analisis risiko dan manfaat (risk-benefit ratio). Memaksa pengambilan sisa akar dengan risiko merusak struktur tulang penyangga secara masif, atau berisiko mendorong fragmen masuk ke dalam sinus maksilaris, fossa infratemporalis, atau kanalis mandibularis, merupakan tindakan yang kurang bijak. Jika risiko dianggap terlalu besar, membiarkan fragmen tetap pada tempatnya sembari melakukan observasi berkala melalui foto rontgen adalah opsi yang valid.

Namun, jika pengambilan sisa akar dinilai perlu, pendekatan bedah (surgical approach) sering kali lebih disarankan dibandingkan usaha konservatif yang berkepanjangan menggunakan alat pencungkil akar (root picks) yang justru dapat meningkatkan trauma jaringan. Prosedur bedah meliputi pembuatan flap, pengurangan tulang secara konservatif untuk akses visual, dan pengungkitan akar.

Proteksi Gigi Tetangga dan Jaringan Sekitar

Kerusakan pada gigi sebelah atau restorasi (tambalan/mahkota) umumnya terjadi akibat tumpuan alat elevator yang tidak tepat. Penggunaan gigi tetangga sebagai titik tumpu dapat menyebabkan kegoyangan atau lepasnya restorasi. Sementara itu, cedera pada gigi lawan (antagonis) sering kali disebabkan oleh pelepasan gigi yang tak terkendali akibat gaya tarikan yang eksplosif. Pencegahan dapat dilakukan dengan teknik fiksasi jari yang benar dan kontrol tenaga yang baik.

Penanganan Fraktur Tulang Alveolar

Fraktur pada tulang penyangga gigi (prosesus alveolaris) dapat berkisar dari kategori minor hingga mayor.

  • Fraktur Minor: Terbawanaya serpihan tulang bersama akar gigi saat pencabutan. Penanganannya cukup dengan menghaluskan tepi tulang yang tajam.
  • Fraktur Mayor: Melibatkan segmen tulang yang luas, seperti tuberositas maksila, terutama jika dinding sinus sangat tipis. Jika terdeteksi adanya pergerakan tulang yang luas sebelum gigi terlepas, prosedur sebaiknya dihentikan. Gigi dan segmen tulang tersebut harus diimobilisasi (di-splint) selama 6–8 minggu untuk pemulihan, sebelum dilakukan tindakan pembedahan lanjutan.

Risiko Fraktur Mandibula

Fraktur rahang bawah (mandibula) adalah komplikasi serius yang paling sering diasosiasikan dengan pencabutan gigi molar ketiga (gigi bungsu). Hal ini terjadi karena titik pertemuan antara badan rahang dan cabang rahang (ramus) merupakan area anatomis yang relatif lemah. Penggunaan tenaga elevator yang berlebihan dapat menciptakan efek baji (wedging effect) yang mematahkan tulang.

Diagnosis fraktur ditegakkan melalui pemeriksaan klinis dan konfirmasi radiografis (panoramik). Jika terjadi, pasien harus segera dirujuk untuk mendapatkan perawatan fiksasi rahang (intermaksila) selama kurang lebih 5–6 minggu. Pada kasus dengan risiko tinggi, seperti gigi impaksi yang sangat dalam atau kondisi tulang yang mengalami resorpsi patologis, komunikasi pra-bedah kepada pasien mengenai risiko ini sangatlah krusial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar