Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

07/10/2011

Penanganan dan Pencegahan Perdarahan sebagai Komplikasi Intraoperatif Pencabutan Gigi

Dalam praktik bedah mulut, respons fisiologis pasca-tindakan seperti perdarahan ringan, rasa nyeri, dan pembengkakan (edema) merupakan hal yang wajar. Namun, apabila intensitasnya berlebihan, kondisi tersebut harus dievaluasi lebih lanjut sebagai potensi komplikasi medis. Secara umum, komplikasi dapat dikategorikan menjadi tiga fase: intraoperatif (saat operasi berlangsung), segera setelah operasi, dan masa pemulihan jangka panjang.

Pencegahan yang optimal bertumpu pada anamnesis (pemeriksaan riwayat kesehatan) yang teliti, pemeriksaan klinis menyeluruh, penunjang radiografis yang adekuat, serta perencanaan bedah yang matang. Meskipun persiapan telah dilakukan secara sempurna oleh operator yang berpengalaman, risiko komplikasi intraoperatif tetap ada dan tidak selalu mencerminkan kesalahan prosedur, melainkan variabilitas respons biologis setiap individu.

Manajemen Risiko Perdarahan

Perdarahan merupakan salah satu komplikasi intraoperatif yang paling dikhawatirkan karena berpotensi mengancam keselamatan jiwa. Meskipun kasus gangguan pembekuan darah yang tidak terdiagnosis relatif jarang—sebagai contoh, insidensi hemofilia pada orang dewasa di Amerika Serikat hanya berkisar 1:20.000—kewaspadaan tetap mutlak diperlukan.

Risiko perdarahan yang signifikan lebih sering ditemukan pada pasien dengan riwayat penyakit sistemik, seperti gangguan fungsi hati (misalnya pada pasien sirosis alkoholik), atau mereka yang sedang menjalani terapi antikoagulan (pengencer darah), serta konsumsi aspirin dosis tinggi atau obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) lainnya. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter yang merawat pasien sebelumnya sangat disarankan jika terdapat kecurigaan klinis. Pemeriksaan laboratorium hemostasis (pembekuan darah) dapat menjadi sarana konfirmasi untuk mendeteksi kelainan mekanisme pembekuan darah, yang selanjutnya memerlukan kolaborasi medis antara dokter gigi dan dokter umum.

Pemahaman Anatomi dan Teknik Hemostasis

Penguasaan anatomi vaskular adalah kunci utama dalam mencegah insiden perdarahan arteri atau vena yang tidak diinginkan. Beberapa area anatomis dengan risiko tinggi meliputi:

  • Palatum: Keberadaan arteri palatina mayor.

  • Vestibulum bukal molar bawah: Jalur arteri fasialis.

  • Ramus mandibula (tepi anterior): Lokasi arteri bukalis.

  • Regio apikal molar ketiga: Kedekatan dengan arteri alveolaris inferior.

Selain faktor anatomis, kondisi patologis seperti hemangioma atau malformasi arteri-vena (AVM) memiliki risiko perdarahan ekstrem. Secara klinis, lesi jaringan lunak yang tumbuh dengan cepat patut diwaspadai karena biasanya memiliki vaskularisasi yang sangat aktif.

Apabila terjadi perdarahan arteri, langkah penanganan awal yang efektif adalah aplikasi tekanan langsung (direct pressure) menggunakan jari atau kain kasa steril. Jika perdarahan bersifat deras (misalnya akibat terpotongnya arteri), penggunaan klem hemostat untuk menjepit pembuluh darah mungkin diperlukan. Meskipun ligasi (pengikatan) pembuluh darah di dalam rongga mulut secara teknis sulit dilakukan, tindakan penjepitan (klem) sering kali sudah cukup untuk memicu pembentukan bekuan darah alami. Metode lain yang lebih canggih meliputi penggunaan elektrokoagulasi atau aplikasi klip hemostatik.

Keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan prosedur bedah saat terjadi perdarahan intraoperatif harus didasarkan pada evaluasi kondisi tanda-tanda vital pasien, estimasi jumlah darah yang hilang, serta durasi waktu yang dibutuhkan untuk mengontrol perdarahan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar