Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

05/10/2011

Retinopati Diabetik dan Komplikasi Okular: Ancaman Senyap Diabetes Melitus terhadap Kesehatan Penglihatan

Pendahuluan: Diabetes Sebagai Penyakit Sistemik Diabetes Melitus (DM) sering kali disalahartikan hanya sebagai masalah "gula darah tinggi". Namun, dalam perspektif medis yang lebih luas, diabetes sejatinya adalah penyakit pembuluh darah (vaskular). Kadar glukosa darah yang tinggi secara kronis bersifat korosif, merusak dinding pembuluh darah di seluruh tubuh, mulai dari ginjal, saraf, gusi (periodontal), hingga ke struktur yang sangat halus dan vital: mata.

Bagi praktisi kesehatan, termasuk dokter gigi, memahami status sistemik pasien diabetes sangatlah krusial. Jika seorang pasien telah mengalami komplikasi pada mata, besar kemungkinan komplikasi mikrovaskular di area lain—termasuk rongga mulut—juga sedang berlangsung atau memiliki risiko penyembuhan luka yang buruk.

Mekanisme Kerusakan: Mengapa Gula Merusak Mata? Mata manusia, khususnya retina, membutuhkan suplai darah yang sangat presisi. Pada penderita diabetes yang tidak terkontrol, dua mekanisme utama terjadi:

  1. Penyumbatan: Gula darah tinggi merusak sel-sel perisit yang menopang pembuluh darah kapiler di retina. Akibatnya, pembuluh darah tersumbat, dan retina mengalami kekurangan oksigen (iskemia).

  2. Kebocoran: Dinding pembuluh darah menjadi lemah dan membengkak (mikroaneurisma), menyebabkan cairan atau darah bocor ke jaringan retina, yang mengganggu penglihatan.

Spektrum Gangguan Mata Akibat Diabetes

1. Retinopati Diabetik (Ancaman Utama) Ini adalah penyebab utama kebutaan pada usia produktif di seluruh dunia. Penyakit ini berkembang dalam dua tahap:

  • Non-Proliferatif (NPDR): Tahap awal di mana pembuluh darah retina mulai bocor. Sering kali tanpa gejala, namun jika cairan menumpuk di pusat penglihatan (makula), dapat terjadi Diabetic Macular Edema (DME) yang menyebabkan pandangan kabur.
  • Proliferatif (PDR): Tahap lanjut yang berbahaya. Sebagai respon terhadap kekurangan oksigen, retina menumbuhkan pembuluh darah baru (neovaskularisasi). Sayangnya, pembuluh darah baru ini rapuh dan mudah pecah, menyebabkan pendarahan masif ke dalam bola mata (vitreous hemorrhage) dan parut yang dapat menarik retina hingga terlepas (ablasio retina).

2. Katarak Diabetik Meskipun katarak umum terjadi pada lansia, penderita diabetes cenderung mengalaminya pada usia yang jauh lebih muda. Kadar gula yang tinggi menyebabkan perubahan metabolisme pada lensa mata, membuatnya keruh lebih cepat.

3. Glaukoma Diabetes meningkatkan risiko terjadinya glaukoma (kerusakan saraf mata akibat tekanan bola mata tinggi). Tumbuhnya pembuluh darah abnormal di saluran pembuangan cairan mata (glaukoma neovaskular) adalah salah satu jenis glaukoma yang paling sulit ditangani.

Gejala Klinis: Apa yang Harus Diwaspadai? Sifat "senyap" dari penyakit ini adalah bahaya terbesarnya. Pada tahap awal, pasien mungkin tidak merasakan apa-apa. Gejala biasanya baru muncul ketika kerusakan sudah lanjut, meliputi:

  • Penglihatan kabur atau berfluktuasi.
  • Munculnya bintik-bintik hitam melayang (floaters) dalam jumlah banyak.
  • Hilangnya sebagian lapang pandang (seperti tertutup tirai gelap).
  • Sulit membedakan warna.

Update Penatalaksanaan Terkini (Perspektif 2024-2025) Dahulu, terapi utama terbatas pada laser. Kini, pendekatan medis telah berkembang pesat:

  • Anti-VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor): Standar emas pengobatan saat ini melibatkan suntikan obat ke dalam mata (intravitreal) untuk menghentikan pertumbuhan pembuluh darah abnormal dan mengurangi pembengkakan.
  • Laser Fotokoagulasi: Masih digunakan untuk kasus tertentu guna menyegel kebocoran darah.
  • Vitrektomi: Prosedur bedah mikro untuk membersihkan darah atau jaringan parut dari dalam mata.

Pesan Penting untuk Pasien dan Sejawat Bagi masyarakat awam, kunci utama adalah kontrol metabolik. Menjaga kadar HbA1c, tekanan darah, dan kolesterol adalah cara terbaik mencegah kerusakan mata. Jangan menunggu hingga pandangan kabur. Pasien Diabetes Tipe 2 wajib melakukan pemeriksaan mata segera setelah terdiagnosis, dan rutin setahun sekali setelahnya.

Bagi rekan sejawat dokter gigi, anamnesis mengenai riwayat kesehatan mata pada pasien diabetes dapat menjadi indikator keparahan penyakit sistemik mereka. Pasien dengan retinopati diabetik memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit periodontal yang agresif dan delayed healing pasca pencabutan gigi. Kolaborasi interdisipliner sangat diperlukan demi kualitas hidup pasien yang optimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar