Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

09/10/2011

Penanganan Komplikasi Intraoperatif: Risiko Pergeseran Gigi dan Fragmen Akar ke Ruang Anatomi Sekitar

Dalam prosedur pencabutan gigi, salah satu komplikasi intraoperatif yang patut diwaspadai adalah pergeseran gigi atau fragmen akar (displacement) ke dalam struktur anatomi yang berdekatan. Insiden ini dapat melibatkan masuknya objek tersebut ke dalam sinus maksilaris (antrum), fossa infratemporalis, rongga hidung, kanalis mandibularis, ataupun ruang submandibula. Pemahaman mendalam mengenai risiko ini serta manajemen penanganan yang tepat sangat krusial bagi keberhasilan perawatan dan keselamatan pasien.

Pergeseran ke Sinus Maksilaris (Antrum)

Sinus maksilaris merupakan area yang paling sering mengalami komplikasi pergeseran. Hal ini umumnya terjadi saat upaya pengambilan fragmen atau ujung akar gigi molar atau premolar kedua rahang atas, di mana tekanan instrumen elevator yang berlebihan mengarah ke superior. Mengingat kedekatan anatomis antara ujung akar gigi posterior atas dengan dasar sinus, pemeriksaan radiografis (sinar-X) yang akurat sangat mutlak diperlukan, baik pada fase pra-operasi maupun intra-operatif untuk mendeteksi posisi fragmen secara presisi.

Indikasi klinis terjadinya pergeseran ke dalam sinus dapat berupa perdarahan dari hidung (epistaksis) atau adanya keluhan subjektif pasien seperti sensasi keluarnya udara atau cairan melalui hidung. Upaya pengambilan fragmen secara buta (blind exploration) melalui soket gigi sangat tidak dianjurkan karena justru dapat memperlebar kerusakan tulang dan memicu fistula oroantral.

Penatalaksanaan meliputi pemberian informasi kepada pasien, penjahitan area luka, serta terapi farmakologis berupa antibiotik spektrum luas dan dekongestan sistemik. Pasien harus diinstruksikan untuk tidak membuang ingus (blowing nose), batuk, atau bersin dengan keras. Jika diperlukan pengeluaran fragmen, pendekatan bedah standar seperti metode Caldwell-Luc melalui fossa kanina sering menjadi pilihan rujukan.

Pergeseran ke Fossa Infratemporalis

Meskipun jarang terjadi, gigi molar ketiga atas yang impaksi dapat terdorong ke fossa infratemporalis akibat tekanan elevator yang salah arah ke distal. Jika fragmen terdorong ke posterior-superior, risiko masuk ke fossa ini meningkat.

Strategi penanganan pada kasus ini umumnya bersifat konservatif di tahap awal. Dokter akan memberikan terapi antibiotik dan merujuk pasien. Tindakan pembedahan untuk pengambilan fragmen biasanya ditunda selama 3–4 minggu hingga terbentuk jaringan fibrosa yang akan memfiksasi posisi gigi atau akar tersebut, sehingga memudahkan proses pengangkatan.

Pergeseran ke Area Mandibula

Pada rahang bawah, pergeseran fragmen umumnya melibatkan gigi molar, dengan area tujuan pergeseran ke kanalis mandibularis atau ruang submandibula. Ujung akar molar ketiga sering kali memiliki kedekatan anatomis dengan saraf alveolaris inferior di dalam kanalis mandibularis, yang dapat teridentifikasi melalui foto rontgen periapikal pra-bedah.

Apabila terjadi pergeseran, penatalaksanaan dibedakan berdasarkan lokasi:

  1. Kanalis Mandibularis: Pengeluaran fragmen harus dilakukan segera untuk mencegah kerusakan saraf permanen. Pendekatan bedah dilakukan dengan membuka flap mukoperiosteal bukal dan dekortikasi tulang lateral.

  2. Ruang Submandibula: Pembedahan biasanya ditunda untuk memberikan waktu bagi proses fibrosis agar fragmen terimobilisasi, mempermudah lokalisasi saat operasi definitif. Akses bedah umumnya dilakukan melalui flap lingual dengan kewaspadaan tinggi terhadap nervus lingualis.

Kesimpulannya, identifikasi risiko melalui pemeriksaan radiografis yang teliti dan teknik pembedahan yang hati-hati adalah kunci pencegahan. Namun, jika pergeseran terjadi, penanganan yang tenang, pemberian medikasi yang tepat, dan rujukan ke ahli bedah mulut merupakan langkah standar demi keselamatan pasien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar