Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

24/06/2011

Scardovia wiggsiae: Mengenal Patogen Baru di Balik Severe Early Childhood Caries (S-ECC)

Scardovia wiggsiae is not a new masterpiece of J.R.R. Tolkien. Neither a new indie rock band in my town. Scardovia wiggsiae is a bacteria, specifically found in severe carious lesion in children.

Meskipun namanya terdengar asing dan eksotis, penemuan bakteri ini dalam dekade terakhir telah mengubah paradigma kita mengenai etiologi karies gigi pada anak. Selama bertahun-tahun, komunitas medis meyakini bahwa Streptococcus mutans adalah satu-satunya aktor utama penyebab lubang gigi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekosistem karies jauh lebih kompleks, dan Scardovia wiggsiae muncul sebagai tersangka utama dalam kasus karies yang parah.

Apa Itu Scardovia wiggsiae?

Scardovia wiggsiae adalah bakteri Gram-positif, berbentuk batang, tidak bergerak, dan bersifat anaerobik fakultatif. Bakteri ini termasuk dalam famili Bifidobacteriaceae. Nama "wiggsiae" diberikan sebagai penghormatan kepada Dr. Bonnie Wiggs, seorang klinisi yang berkontribusi besar dalam penelitian kesehatan mulut anak.

Peran dalam Severe Early Childhood Caries (S-ECC)

Identifikasi S. wiggsiae pertama kali mencuat melalui teknologi sekuensing DNA pada sampel plak anak-anak yang menderita karies sangat parah (Severe Early Childhood Caries). Karakteristik patogenisitasnya meliputi:

  1. Sifat Asidogenik dan Asidofilik: Seperti halnya S. mutans, bakteri ini mampu memfermentasi gula menjadi asam (asidogenik) dan dapat bertahan hidup dalam lingkungan mulut yang sangat asam (asidofilik).

  2. Sinergi Mikroba: Hal yang paling menarik adalah S. wiggsiae sering ditemukan bersamaan dengan S. mutans. Keberadaan keduanya secara simultan secara signifikan meningkatkan risiko dan kecepatan kerusakan gigi pada anak dibandingkan jika hanya terdapat salah satu jenis bakteri saja.

  3. Karies Tanpa S. mutans: Pada beberapa kasus S-ECC yang unik, peneliti menemukan bahwa S. mutans tidak terdeteksi, namun S. wiggsiae hadir dalam jumlah yang sangat dominan. Ini menjelaskan mengapa beberapa anak tetap mengalami karies meskipun kadar S. mutans mereka rendah.

Mengapa Ini Penting bagi Klinisi dan Orang Tua?

Penemuan ini memiliki implikasi besar dalam metode diagnosis dan pencegahan:

  • Kegagalan Deteksi Tradisional: Karena S. wiggsiae memiliki karakteristik pertumbuhan yang berbeda, metode kultur laboratorium konvensional sering kali gagal mendeteksinya. Hal ini memerlukan metode molekuler yang lebih canggih.
  • Resistensi Terhadap Pencegahan Standar: Ada indikasi bahwa bakteri ini memiliki tingkat toleransi yang berbeda terhadap beberapa agen antimikroba standar dibandingkan S. mutans.
  • Pentingnya Kontrol Diet: Mengingat bakteri ini sangat efisien dalam mengolah karbohidrat menjadi asam, pembatasan asupan gula bebas pada anak tetap menjadi garda terdepan dalam pencegahan.

Kesimpulan

Munculnya Scardovia wiggsiae sebagai patogen karies baru menegaskan bahwa kesehatan rongga mulut anak adalah keseimbangan mikrobioma yang dinamis. Pemahaman mengenai bakteri ini mendorong para profesional kedokteran gigi untuk tidak hanya fokus pada satu jenis bakteri, melainkan pada keseluruhan lingkungan biofilm mulut.


Referensi:

  1. Tanner, A. C., et al. (2011). "Culturable microorganisms associated with severe-early childhood caries." Journal of Clinical Microbiology, 49(4), 1464-1474. (Referensi orisinal penemuan).

  2. Hajishengallis, E., et al. (2017). "The Oral Microbiome in Health and Disease." Monographs in Oral Science.

  3. Kishi, M., et al. (2019). "Scardovia wiggsiae and Streptococcus mutans as Main Pathogens of Severe Early Childhood Caries." Frontiers in Cellular and Infection Microbiology.

  4. Siqueira, J. F., & Rocas, I. N. (2021). Present and Future Perspectives on Microbiome Research in Oral Health.

  5. American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). (2022). Manual on Pediatric Dentistry: Microbiome and Caries Risk Assessment.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar