Prosedur pembedahan dalam rongga mulut, mulai dari ekstraksi gigi sederhana hingga odontektomi (pengangkatan gigi bungsu) dan bedah implan, senantiasa membawa risiko komplikasi. Meskipun teknik bedah terus berkembang, pemahaman mendalam mengenai komplikasi yang muncul segera setelah operasi sangat krusial bagi praktisi klinis maupun pasien guna menjamin proses penyembuhan yang optimal.
Berikut adalah beberapa komplikasi pasca-operasi yang umum terjadi dan protokol penanganannya:
1. Perdarahan Pasca-Operasi (Hemorrhage)
Perdarahan merupakan efek samping yang lazim, namun menjadi komplikasi jika jumlahnya berlebihan atau sulit berhenti.
- Penyebab: Dapat dipicu oleh trauma jaringan yang luas, lepasnya bekuan darah (blood clot), hingga kondisi sistemik pasien seperti hipertensi atau gangguan koagulasi darah.
- Penanganan: Langkah pertama adalah penekanan mekanis menggunakan kasa steril selama 30–60 menit. Jika perdarahan berlanjut, klinisi dapat menggunakan agen hemostatik (seperti oxidized regenerated cellulose atau gelatin sponge) dan melakukan penjahitan (suturing) untuk menstabilkan luka.
2. Edema (Pembengkakan)
Edema merupakan respons inflamasi fisiologis tubuh terhadap trauma bedah. Puncak pembengkakan biasanya terjadi pada 48 hingga 72 jam setelah tindakan.
- Penanganan: Aplikasi kompres dingin (ice pack) pada area luar wajah selama 24 jam pertama sangat efektif untuk vasokonstriksi. Setelah melewati fase akut (setelah 24 jam), kompres hangat dapat membantu melancarkan sirkulasi darah untuk meredakan bengkak. Pemberian kortikosteroid atau obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dapat dipertimbangkan sesuai indikasi dokter.
3. Nyeri Pasca-Bedah
Rasa nyeri muncul setelah efek anestesi lokal menghilang. Intensitas nyeri sangat bergantung pada kompleksitas tindakan dan ambang toleransi nyeri masing-masing individu.
- Manajemen: Pemberian analgesik yang tepat (seperti Paracetamol atau Ibuprofen) sebelum rasa nyeri mencapai puncaknya terbukti lebih efektif dalam mengontrol ketidaknyamanan pasien.
4. Alveolar Osteitis (Dry Socket)
Ini adalah salah satu komplikasi paling menyakitkan yang biasanya terjadi 2–4 hari pasca-ekstraksi gigi, di mana bekuan darah pada soket terlepas atau larut sebelum luka sembuh.
- Gejala: Nyeri hebat yang menjalar hingga telinga dan bau mulut yang tidak sedap (fetor ex ore).
- Penanganan: Irigasi soket dengan larutan salin steril dan aplikasi bahan medikamen intra-alveolar (seperti eugenol-based dressing) untuk meredakan nyeri dan melindungi tulang yang terbuka.
5. Trismus (Keterbatasan Membuka Mulut)
Trismus sering terjadi akibat peradangan pada otot-otot pengunyahan (muscles of mastication) atau akibat injeksi saraf yang mengenai pembuluh darah sehingga menimbulkan hematoma.
- Penanganan: Pasien disarankan melakukan latihan peregangan mulut secara perlahan, kompres hangat, dan dalam beberapa kasus, pemberian obat relaksan otot.
6. Parestesia (Gangguan Sensasi)
Terjadi akibat trauma atau tekanan pada saraf, paling sering saraf alveolaris inferior atau saraf lingualis saat operasi gigi bungsu bawah.
- Status: Sebagian besar bersifat sementara (reversibel) dan akan pulih dalam beberapa minggu hingga bulan. Namun, pemantauan berkala oleh dokter gigi sangat diperlukan.
Kesimpulan dan Edukasi Pasien
Keberhasilan pasca-operasi tidak hanya bergantung pada kemahiran operator, tetapi juga pada kepatuhan pasien terhadap instruksi pasca-bedah (post-operative instructions). Deteksi dini terhadap tanda-tanda infeksi atau perdarahan abnormal sangat menentukan prognosis kesembuhan.
Daftar Referensi (Cross-check Pengetahuan Terbaru):
Hupp, J. R., Ellis, E., & Tucker, M. R. (2019). Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery (7th Edition). Elsevier. (Standar emas dalam protokol bedah mulut global).
Fragiskos, F. D. (2018). Oral Surgery. Springer. (Membahas manajemen komplikasi dan teknik bedah terkini).
Renton, T., & Hill, C. M. (2020). A Clinical Guide to Oral Surgery. British Dental Association.
Chow, O., et al. (2020). "Prevention and Management of Postoperative Complications." Dental Clinics of North America.
American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons (AAOMS). Patient Safety and Postoperative Care Guidelines.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar