Hipersensitivitas Dentin (HD) merupakan salah satu keluhan sensorik yang paling sering ditemui dalam praktik kedokteran gigi sehari-hari. Meskipun sering dianggap sebagai gangguan ringan oleh pasien, HD dapat secara signifikan menurunkan kualitas hidup karena rasa nyeri yang tajam dan mendadak. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai karakteristik, etiologi, dan dasar ilmiah mekanisme nyeri berdasarkan teori hidrodinamik.
Karakteristik Klinis Hipersensitivitas Dentin
Secara definisi, Hipersensitivitas Dentin ditandai dengan munculnya nyeri tajam dengan durasi singkat yang berasal dari dentin yang terbuka. Rasa nyeri ini merupakan respon terhadap berbagai rangsangan eksternal—baik termal (dingin/panas), evaporatif (tiupan angin), taktil (sentuhan), osmotik, maupun kimiawi (makanan asam/manis)—yang tidak dapat dikaitkan dengan defek atau penyakit dental lainnya seperti karies, retak gigi, atau restorasi yang bocor.
Prevalensi dan Distribusi
Angka kejadian HD sangat bervariasi di seluruh dunia, berkisar antara 4% hingga 57%. Namun, pada pasien dengan penyakit periodontal, prevalensinya melonjak drastis hingga mencapai 60%–98%. Kondisi ini paling umum ditemukan pada individu kelompok usia 30 hingga 40 tahun, dengan gigi kaninus dan premolar sebagai area yang paling sering terdampak, terutama pada margin servikal aspek bukal atau labial.
Etiologi: Bagaimana Sensitivitas Terjadi?
Dentin secara anatomis memang memiliki sifat sensitif karena hubungannya yang erat dengan jaringan pulpa yang kaya akan saraf. Namun, sensitivitas ini biasanya terlindungi oleh email di bagian mahkota atau sementum di bagian akar. HD berkembang melalui dua fase utama:
Lokalisasi Lesi: Terbukanya dentin akibat hilangnya lapisan pelindung (email atau sementum). Hal ini sering kali dipicu oleh resesi gingiva, abrasi akibat teknik menyikat gigi yang salah, atau erosi asam dari makanan dan minuman.
Inisiasi Lesi: Terbukanya ujung luar tubulus dentinalis. Pada kondisi normal, tubulus sering tertutup oleh smear layer (lapisan sisa pemotongan). Jika lapisan ini hilang akibat proses kimiawi (asam) atau mekanis, tubulus menjadi paten (terbuka), memungkinkan rangsangan mencapai saraf intradental.
Teori Hidrodinamik: Dasar Mekanisme Nyeri
Hingga saat ini, teori yang paling diterima secara luas untuk menjelaskan nyeri pada dentin adalah Teori Hidrodinamik, yang pertama kali dipopulerkan oleh Brännström.
Mekanisme ini menjelaskan bahwa ketika dentin yang tubulusnya terbuka terkena rangsangan (seperti udara dingin atau makanan manis), terjadi pergerakan cairan secara cepat di dalam tubulus dentinalis. Aliran cairan ini memberikan tekanan mekanis yang mengaktivasi serabut saraf sensorik (terutama serabut A-delta) yang terletak di perbatasan pulpa-dentin.
- Rangsangan Dingin & Evaporatif: Menyebabkan cairan mengalir keluar dari pulpa, yang secara klinis terbukti lebih efektif memicu rasa nyeri tajam dibandingkan rangsangan panas.
- Implikasi Klinis: Pemahaman ini menjadi dasar pengembangan agen desensitisasi. Perawatan bertujuan untuk menghentikan aliran cairan tersebut dengan cara menyumbat tubulus (metode oklusi) atau dengan menurunkan eksitabilitas saraf (metode depolarisasi).

Strategi Penanganan dan Tata Laksana
Penatalaksanaan HD harus dilakukan secara sistematis. Diagnosis yang akurat sangat krusial untuk mengeliminasi penyebab nyeri lain (diagnosis banding). Strategi perawatan dibagi menjadi dua kategori:
Perawatan di Rumah (At-Home Treatment): Penggunaan pasta gigi desensitisasi yang mengandung garam potasium (seperti potasium nitrat) untuk mendepolarisasi saraf, atau bahan oklusi tubulus seperti stannous fluoride dan kalsium fosfat.
Perawatan di Ruang Praktik (In-Office Treatment): Aplikasi bahan barrier yang lebih kuat oleh dokter gigi, seperti cairan topikal, varnish fluorida konsentrasi tinggi, bahan restorasi adhesif (bonding), atau penggunaan teknologi laser untuk menutup tubulus dentinalis.
Kesimpulan dan Pemutakhiran Pengetahuan
Penelitian terbaru dalam satu dekade terakhir menekankan pentingnya manajemen diet (mengurangi konsumsi asam) sebagai bagian dari pencegahan HD. Selain itu, penggunaan bahan biomimetik seperti nanohydroxyapatite menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan dalam menutup tubulus dentinalis secara permanen dibandingkan metode konvensional.
Bagi praktisi, pendekatan bertahap yang diawali dengan tindakan non-invasif tetap menjadi standar emas dalam memberikan kenyamanan maksimal bagi pasien.
Referensi:
Orchardson R, Gillam DG. Managing dentin hypersensitivity. J Am Dent Assoc. 2006;137(7):990-8.
Brännström M. The hydrodynamic theory of dentinal pain: Stimuli in dentin and pulp. peripheral mechanisms of pain. 1963.
Miglani S, Aggarwal V, Ahuja B. Dentin hypersensitivity: Recent trends in management. J Conserv Dent. 2010;13(4):218-24.
Addy M. Dentine hypersensitivity: New perspectives on an old problem. Int Dent J. 2002;52:367-375.
Longridge NN, Youngson CC. Dentine Hypersensitivity: A Review of Current Aetiology, Prevalence and Management. Dent Update. 2019;46(4):316-322. (Cross-check Update).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar