Updated: Nov 21, 2006
Pemeriksaan rongga mulut merupakan prosedur diagnostik vital yang sering kali kurang mendapatkan porsi pembahasan yang memadai dalam kurikulum medis dasar. Padahal, evaluasi sistematis terhadap jaringan lunak dan keras di dalam mulut bukan hanya bertujuan untuk membedakan kondisi sehat dan sakit, melainkan juga menjadi jendela untuk memantau kesehatan pasien secara menyeluruh.
Pemeriksaan yang teliti, dikombinasikan dengan riwayat medis yang lengkap, dapat memberikan wawasan krusial. Hal ini sangat penting, misalnya pada pasien yang akan menjalani terapi kanker atau dalam penentuan klasifikasi dan terapi antiretroviral pada pasien dengan HIV. Selain itu, banyak lesi jaringan lunak di mulut yang bersifat infeksius, traumatik, atau reaktif, yang etiologinya hanya dapat ditegakkan melalui anamnesis yang cermat—termasuk riwayat penggunaan obat-obatan yang mungkin menyebabkan mulut kering (xerostomia) atau kebiasaan penggunaan produk kebersihan mulut tertentu.
Artikel ini akan menguraikan prosedur sistematis dalam pemeriksaan rongga mulut, mulai dari evaluasi ekstraoral hingga intraoral, serta teknik penunjang diagnosis.
1. Pemeriksaan Ekstraoral: Kepala dan Leher
Langkah awal yang krusial adalah inspeksi dan palpasi pada area kepala dan leher. Informasi klinis dari area ini sering kali menjadi kunci dalam menentukan penyebab penyakit mulut.
- Evaluasi Kulit dan Wajah: Perubahan pigmentasi pada mukosa mulut sering kali memiliki korelasi dengan kondisi kulit wajah atau leher, seperti pada kasus insufisiensi korteks adrenal. Selain itu, sindrom tertentu seperti sindrom hamartoma dapat bermanifestasi sebagai papiloma multipel di mulut yang disertai kelainan pada kulit wajah (trikolemoma).
- Kelenjar Limfe (Getah Bening): Pembesaran kelenjar limfe leher adalah temuan yang umum, terutama pada infeksi oral atau keganasan. Limfadenopati akibat infeksi biasanya teraba lunak dan dapat digerakkan (mobile). Sebaliknya, pembesaran akibat metastasis kanker cenderung tidak nyeri (asimptomatik) dan terfiksir pada jaringan di bawahnya.
- Kelenjar Saliva: Palpasi pada area preaurikular (depan telinga) diperlukan untuk mendeteksi neoplasma pada kelenjar parotis. Sementara itu, kelenjar submandibula diperiksa melalui palpasi bimanual untuk mendeteksi pembesaran atau konsistensi yang tidak normal.
- Sendi Temporomandibular (TMJ): Gangguan sendi rahang sering dikeluhkan pasien berupa nyeri atau bunyi sendi. Pemeriksaan dilakukan dengan meletakkan ujung jari pada liang telinga luar saat pasien membuka-menutup mulut dan menggerakkan rahang. Bunyi clicking, popping, atau krepitasi dapat mengindikasikan disfungsi sendi.
- Bibir: Pemeriksaan bibir meliputi inspeksi visual dan palpasi. Batas bibir (vermilion border) yang sehat seharusnya halus. Tanda-tanda kerusakan akibat sinar matahari (actinic cheilitis) berupa atrofi atau penebalan epitel perlu diwaspadai sebagai kondisi pra-ganas. Selain itu, luka pada sudut mulut (angular cheilitis) sering kali berkaitan dengan infeksi jamur Candida albicans, defisiensi vitamin B kompleks, atau hilangnya dimensi vertikal wajah pada lansia yang kehilangan gigi.
2. Pemeriksaan Intraoral: Jaringan Lunak Mulut
Pencahayaan yang adekuat adalah syarat mutlak dalam pemeriksaan intraoral. Warna mukosa mulut yang normal umumnya digambarkan sebagai merah muda (pink-salmon), namun variasi pigmentasi rasial adalah hal yang wajar.
- Mukosa Labial dan Bukal (Pipi Bagian Dalam): Pada kondisi sehat, mukosa ini licin, lembut, dan terlumasi saliva. Beberapa variasi normal yang sering ditemukan meliputi:
- Leukoedema: Penampakan seperti selaput susu yang hilang jika mukosa diregangkan.
- Granula Fordyce: Bintik-bintik putih kekuningan yang merupakan kelenjar minyak ektopik.
- Linea Alba: Garis putih horizontal setinggi bidang gigit akibat iritasi ringan kronis.
- Muara Duktus Stensen: Saluran keluar kelenjar parotis yang tampak sebagai tonjolan kecil di mukosa pipi dekat gigi geraham atas.
Lidah: Lidah harus diperiksa secara menyeluruh (dorsal, lateral, dan ventral).
- Permukaan Dorsal (Atas): Dilapisi papila filiform (seperti rambut) dan fungiform (seperti jamur). Papila sirkumvalata tersusun membentuk huruf V di bagian belakang lidah. Kondisi seperti hairy tongue (pemanjangan papila filiform) dapat memicu bau mulut (halitosis). Atrofi atau licinnya permukaan lidah bisa menjadi indikator defisiensi nutrisi.
- Sisi Lateral (Samping): Area ini sering kali menunjukkan tonsil lingual yang dapat membesar jika terjadi infeksi.
- Permukaan Ventral (Bawah): Pembuluh darah sublingual biasanya terlihat jelas (varicosities), terutama pada lansia.
- Dasar Mulut: Ini adalah area di bawah lidah tempat muara kelenjar submandibula (Duktus Wharton). Area ini, bersama dengan sisi lateral lidah, merupakan lokasi yang paling sering menjadi tempat tumbuhnya karsinoma sel skuamosa (kanker mulut), sehingga memerlukan kewaspadaan tinggi.
3. Teknik Biopsi sebagai Penunjang Diagnosis
Jika diagnosis klinis tidak dapat dipastikan hanya melalui tanda dan gejala, biopsi jaringan diperlukan.
- Biopsi Konvensional: Pengambilan jaringan menggunakan skalpel atau punch biopsy untuk pemeriksaan histopatologi.
- Biopsi Sikat (Brush Biopsy): Teknik terbaru yang menggunakan sikat khusus untuk mengumpulkan sampel sel dari seluruh lapisan epitel. Sampel ini kemudian dianalisis menggunakan bantuan komputer untuk mendeteksi sel-sel yang berpotensi ganas (premalignant) atau ganas, sebelum dikonfirmasi oleh ahli patologi.
Kesimpulan
Pemeriksaan rongga mulut yang sistematis dan konsisten adalah kompetensi klinis yang vital. Dokumentasi klinis, baik menggunakan kamera konvensional maupun digital, sangat disarankan untuk memantau perkembangan lesi atau respons terhadap terapi. Bagi pasien, pemeriksaan rutin ini bukan hanya soal kesehatan gigi, melainkan langkah preventif untuk mendeteksi kelainan sistemik sejak dini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar