Dalam ranah kedokteran forensik, identifikasi jenazah merupakan prosedur krusial untuk menegakkan aspek hukum dan kemanusiaan. Sering kali, metode identifikasi konvensional seperti pengenalan visual atau sidik jari tidak dapat dilakukan, terutama pada kasus di mana kondisi jenazah sudah tidak utuh, membusuk, atau rusak akibat trauma hebat (seperti kebakaran atau kecelakaan pesawat).
Di sinilah Odontologi Forensik memegang peranan vital. Disiplin ilmu ini memanfaatkan karakteristik unik gigi geligi sebagai sarana identifikasi primer yang akurat secara ilmiah.
Mengapa Gigi Menjadi Bukti Forensik yang Unggul?
Gigi memiliki keunggulan dibandingkan organ tubuh lainnya dalam proses identifikasi karena dua faktor utama:
Individualitas yang Tinggi: Secara statistik, kemungkinan menemukan dua individu dengan susunan gigi yang persis sama adalah sangat kecil (1 : 2 triliun). Adanya dua fase pertumbuhan gigi (gigi susu dan gigi tetap), variasi bentuk lengkung rahang, posisi gigi, serta riwayat perawatan gigi (seperti tambalan, pencabutan, atau perawatan saluran akar) menjadikan profil gigi seseorang sangat khas, layaknya sidik jari.
Ketahanan Ekstrem: Gigi adalah jaringan terkeras dalam tubuh manusia. Strukturnya yang kaya akan bahan anorganik, serta posisinya yang terlindungi oleh otot-otot mulut, membuat gigi sangat tahan terhadap kerusakan akibat trauma mekanis, suhu panas (kebakaran), zat kimia, hingga proses pembusukan (dekomposisi). Bahkan pada jenazah yang hanya tinggal kerangka, gigi sering kali masih utuh dan dapat diperiksa.
Prinsip Identifikasi: Perbandingan Data
Metode utama dalam identifikasi gigi adalah membandingkan data Post-Mortem (PM) dengan data Ante-Mortem (AM).
1. Data Post-Mortem (PM)
Ini adalah data yang diperoleh dari pemeriksaan langsung terhadap jenazah. Pemeriksaan meliputi:
Pencatatan gigi yang ada, hilang, atau baru tumbuh (seperti gigi molar ketiga).
Identifikasi restorasi (tambalan), protesa (gigi tiruan), jaket, atau kawat gigi (ortodonsia).
Kondisi patologis seperti karies (lubang gigi) dan anomali bentuk.
Derajat atrisi (keausan gigi) yang dapat membantu estimasi umur.
Ciri khas rasial, misalnya bentuk shovel-shaped pada gigi seri (umum pada ras Mongoloid) atau adanya Cusp of Carabelli pada gigi geraham.
Pada kasus jenazah yang rusak atau kaku mayat (rigor mortis), dokter gigi forensik mungkin perlu melakukan prosedur bedah khusus untuk membuka rahang guna mendapatkan akses visual dan radiografis yang jelas tanpa merusak bukti.
2. Data Ante-Mortem (AM)
Ini adalah data rekam medis gigi korban semasa hidup. Sumber data ini meliputi:
Dental record (odontogram) dari praktik dokter gigi, rumah sakit, atau puskesmas.
Foto rontgen gigi.
Cetakan gigi.
Foto close-up wajah yang memperlihatkan gigi.
Keterangan di bawah sumpah dari keluarga atau kerabat dekat.
Identifikasi dinyatakan positif jika terdapat kecocokan yang signifikan antara data PM dan AM tanpa adanya ketidakcocokan yang tidak dapat dijelaskan (unexplainable discrepancies).
Tantangan dalam Pelayanan Identifikasi di Indonesia
Berdasarkan pengalaman di lapangan, seperti di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, tantangan terbesar dalam odontologi forensik adalah ketersediaan data Ante-Mortem.
Belum semua masyarakat Indonesia memiliki kesadaran untuk rutin memeriksakan gigi dan memiliki rekam medis gigi yang tersimpan rapi (dental record). Selain itu, kondisi gigi yang dinamis—berubah karena pertumbuhan atau perawatan baru—menuntut data yang up-to-date.
Jika data AM tidak tersedia, peran odontologi forensik bergeser dari "identifikasi personal" menjadi "profiling". Dokter gigi akan merekonstruksi profil korban berdasarkan temuan pada jenazah untuk memperkirakan:
Umur: Melalui pola erupsi gigi (pada anak) atau tingkat keausan/transparansi akar (pada dewasa).
Ras: Melalui ciri morfologi gigi.
Kebiasaan: Seperti merokok atau pola makan tertentu.
Golongan Darah: Melalui pemeriksaan DNA pada jaringan pulpa gigi.
Informasi ini, meskipun tidak langsung menunjuk pada satu nama, sangat berguna bagi penyidik kepolisian untuk mempersempit daftar pencarian orang hilang.
Kesimpulan
Pemeriksaan odontologis bukan sekadar pelengkap, melainkan metode ilmiah primer dalam kedokteran forensik. Bagi masyarakat, hal ini menekankan pentingnya memiliki rekam medis gigi yang lengkap dan rutin diperbarui. Sebuah kunjungan sederhana ke dokter gigi tidak hanya menjaga kesehatan mulut, tetapi juga mencatat "identitas biologis" yang mungkin sangat berharga di masa depan.
Referensi: Materi kuliah Kedokteran Forensik oleh drg. Sara Afari Grado, M.Kes.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar