Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

23/12/2009

Tinjauan Biokimia Seng (Zinc): Peran Fisiologis Esensial, Implikasi Defisiensi, dan Risiko Toksisitas

Pendahuluan Seng, atau yang secara internasional dikenal sebagai Zinc (Zn), merupakan mineral kelumit (trace element) esensial yang memegang peranan fundamental dalam biologi manusia. Keberadaannya terdistribusi di hampir setiap sel tubuh, yang mengindikasikan fungsi vitalnya dalam berbagai proses biologis. Secara biokimia, fungsi utama seng adalah sebagai kofaktor yang menstimulasi aktivitas ratusan enzim berbeda dalam tubuh.

Peran Fisiologis dalam Kesehatan dan Pertumbuhan Seng memiliki spektrum fungsi fisiologis yang luas dan krusial. Mineral ini merupakan komponen integral dalam menjaga kompetensi sistem imun tubuh yang sehat. Selain itu, seng berperan aktif dalam kaskade penyembuhan luka dan sangat diperlukan dalam proses biosintesis (pembentukan) DNA.

Dari sisi sensorik, kecukupan kadar seng sangat menentukan ketajaman indra pengecap dan penciuman. Lebih jauh lagi, mineral ini mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sepanjang siklus kehidupan, mulai dari fase janin dalam kehamilan, masa kanak-kanak, hingga usia remaja.

Kondisi Defisiensi Seng Meskipun peranannya sangat vital, kasus defisiensi seng pada populasi umum relatif jarang dijumpai. Kekurangan mineral ini umumnya bermanifestasi pada individu yang mengalami gangguan penyerapan nutrisi (sindrom malabsorpsi) atau memiliki gangguan sistem pencernaan lainnya.

Beberapa kondisi klinis spesifik yang dikaitkan dengan risiko defisiensi seng meliputi:

  • Acrodermatitis enteropathica (kelainan genetik langka yang mengganggu absorpsi seng).
  • Penyakit hati kronis.
  • Penyakit ginjal.
  • Penyakit sel sabit (sickle cell disease).
  • Diabetes mellitus.
  • Berbagai penyakit kronis lainnya yang mempengaruhi status nutrisi.

Toksisitas dan Interaksi Mineral Sama halnya dengan mikronutrien lainnya, asupan seng memiliki batas toleransi fisiologis. Konsumsi dalam jumlah berlebihan, khususnya pada kisaran 100 hingga 300 mg per hari, dapat bersifat toksik bagi tubuh. Gejala klinis yang muncul akibat toksisitas seng antara lain meliputi mual, muntah, nyeri pada daerah epigastrium (ulu hati), letargi, dan kelelahan yang signifikan.

Penting untuk diperhatikan dari sudut pandang biokimia bahwa asupan seng yang tinggi dapat memicu interaksi antagonis dengan mineral lain. Konsumsi seng yang berlebihan diketahui dapat mengganggu mekanisme penyerapan tembaga (copper), yang dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan anemia sekunder akibat defisiensi tembaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar