Sumber Nutrisi Untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, tubuh memperoleh asupan mangan dari berbagai sumber pangan nabati. Makanan yang kaya akan mangan meliputi:
- Kacang-kacangan (legumes) dan biji-bijian utuh (whole grains).
- Sayuran berdaun hijau.
- Teh.
- Produk hewani seperti daging, ikan, dan olahan susu mengandung mangan dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan sumber nabati.
Peran Fisiologis dan Fungsi Enzimatik Mangan berfungsi sebagai kofaktor bagi berbagai enzim penting (metaloenzim). Dua peran biokimia utamanya meliputi:
Aktivitas Antioksidan (Superoksida Dismutase): Mangan merupakan komponen kunci dari enzim Manganese Superoxide Dismutase (MnSOD) yang terdapat di dalam mitokondria. Enzim ini bertugas menetralkan radikal bebas superoksida yang sangat reaktif, sehingga melindungi sel dari stres oksidatif dan kerusakan jaringan.
Biosintesis Jaringan Ikat (Glikosiltransferase): Ion mangan (Mn²⁺) bertindak sebagai aktivator bagi enzim glikosiltransferase. Enzim ini berperan vital dalam sintesis oligosakarida, glikoprotein, dan proteoglikan, yang merupakan komponen struktural utama pembentuk tulang rawan dan matriks jaringan ikat.
Metabolisme dan Interaksi Nutrisi Proses absorpsi mangan terjadi di usus halus dan dipengaruhi oleh status nutrisi lain, terutama zat besi (Fe).
Interaksi Antagonis dengan Zat Besi: Mangan dan zat besi berbagi jalur transporter yang sama (DMT-1) di usus. Hal ini menciptakan mekanisme kompetitif:
- Pada kondisi defisiensi besi (kurang darah), tubuh secara kompensatori akan meningkatkan penyerapan logam melalui usus, yang secara tidak sengaja juga menyebabkan peningkatan absorpsi mangan.
- Sebaliknya, kadar simpanan besi yang tinggi akan menghambat penyerapan mangan.
- Pengaruh Etanol: Keberadaan etanol (alkohol) dalam saluran pencernaan diketahui dapat meningkatkan kelarutan dan absorpsi mangan, yang berpotensi meningkatkan kadarnya dalam darah.
Toksisitas dan Implikasi Klinis Meskipun esensial, mangan memiliki rentang toleransi yang sempit. Akumulasi berlebih dapat bersifat neurotoksik (beracun bagi saraf).
- Risiko Okupasional: Keracunan mangan umumnya terjadi akibat paparan kronis di lingkungan kerja, seperti pada penambang bijih mangan atau pengelas logam yang menghirup debu/uap mangan dalam jangka panjang.
- Gejala Klinis (Manganisme): Toksisitas mangan bermanifestasi sebagai gangguan neurologis yang disebut Manganisme. Gejalanya menyerupai Penyakit Parkinson, meliputi tremor, kekakuan otot, gangguan berjalan, dan perubahan psikiatri.
Kesimpulan Mangan adalah elemen "pedang bermata dua"; esensial untuk pertahanan antioksidan dan pembentukan tulang, namun berpotensi toksik jika terakumulasi berlebih. Keseimbangan asupan, terutama dalam kaitannya dengan status zat besi, adalah kunci untuk kesehatan yang optimal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar