Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

Tampilkan postingan dengan label Periodonsia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Periodonsia. Tampilkan semua postingan

21/07/2026

Mengenal Tongue Tie (Ankyloglossia): Benarkah Bikin Anak Susah Menyusui dan Lambat Bicara?

Tali lidah pendek atau ankyloglossia pada mulut bayi yang membatasi pergerakan lidah

Terakhir Diperbarui: 21 Mei 2026 | Target Audiens: Orang Tua, Dokter Anak, Dokter Gigi Anak, Konselor Laktasi, Terapis Wicara | Tingkat Kesulitan: Sedang | Waktu Baca: ± 10 Menit

Tongue Tie (Ankyloglossia): Dampaknya pada Menyusui dan Bicara

Momen menyusui seharusnya menjadi pengalaman emosional yang indah antara ibu dan bayi. Namun, tidak jarang proses ini diwarnai dengan rasa frustrasi: bayi terus-menerus lepas dari puting, berat badan bayi sulit naik, hingga ibu mengalami lecet puting yang luar biasa. Ketika beranjak besar, beberapa anak juga tampak kesulitan melafalkan kata-kata dengan jelas.

Di balik rentetan tantangan tersebut, ada satu kondisi fisik tersembunyi yang sering kali menjadi dalangnya, yaitu Tongue Tie atau dalam istilah medis disebut Ankyloglossia.

Kondisi ini melibatkan jaringan kecil di bawah lidah yang membatasi pergerakan bebas lidah anak. Mari kita bahas secara mendalam mengenai anatomi, dampak nyata, hingga alur penanganan medisnya berdasarkan bukti klinis terbaru.

Apa Itu Tongue Tie (Ankyloglossia)?

Secara anatomis, setiap manusia memiliki lipatan jaringan ikat tipis di bawah lidahnya yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut. Jaringan ini disebut frenulum linguae.

Pada kondisi normal, frenulum ini cukup elastis dan melekat pada posisi yang longgar, sehingga lidah dapat menjulur, terangkat ke langit-langit mulut, dan bergerak ke kanan-kiri tanpa hambatan.

Namun, pada kasus Ankyloglossia (Tongue Tie), frenulum linguae tersebut tumbuh terlalu pendek, tebal, kaku, atau melekat terlalu dekat dengan ujung lidah. Akibatnya, mobilitas lidah menjadi sangat terbatas. Secara visual, ketika anak mencoba menjulurkan lidah, ujung lidahnya sering kali tidak berbentuk runcing atau membulat, melainkan tampak tertarik di bagian tengah hingga membentuk huruf "W" atau menyerupai bentuk hati (heart-shaped).

Dampak Klinis Tongue Tie pada Fase Bayi (Proses Menyusui)

Tali lidah pendek atau ankyloglossia pada mulut bayi yang membatasi pergerakan lidah

Lidah memegang peranan yang sangat sentral dalam mekanisme menyusui (breastfeeding mechanics). Bayi tidak sekadar "mengisap" puting ibu, melainkan melakukan gerakan peristaltik lidah yang kompleks. Lidah bayi harus menjulur melewati gusi bawah, menopang payudara, dan mengangkat puting hingga menyentuh pertemuan langit-langit keras dan lunak di dalam mulut untuk menciptakan tekanan negatif (vacuum).

Ketika bayi mengalami tongue tie, keterbatasan gerak lidah memicu masalah laktasi dua arah:

1. Dampak pada Bayi

  • Pelekatan yang Dangkal (Poor Latch): Bayi tidak mampu mencakup areola payudara dengan sempurna. Mereka hanya menjepit puting menggunakan gusi.
  • Intake ASI Tidak Efektif: Akibat lepas-pasang secara konstan, bayi menelan banyak udara (memicu kolik/kembung) dan cepat lelah sebelum kenyang. Hal ini berdampak langsung pada kurva pertumbuhan berat badan bayi yang stagnan atau menurun (failure to thrive).
  • Frekuensi Menyusu yang Ekstrem: Bayi tampak ingin menyusu terus-menerus tanpa pernah merasa puas.

2. Dampak pada Ibu

  • Trauma Ruam dan Nyeri Puting: Puting ibu mengalami gesekan mekanis yang abnormal dari gusi bayi, menyebabkan lecet, berdarah, hingga risiko infeksi payudara (mastitis).
  • Penurunan Produksi ASI: Stimulasi kelenjar payudara yang tidak maksimal akibat isapan yang tidak efektif secara perlahan menurunkan volume produksi ASI ibu.

Dampak Klinis Tongue Tie pada Fase Anak (Fungsi Bicara dan Rongga Mulut)

Tali lidah pendek atau ankyloglossia pada mulut bayi yang membatasi pergerakan lidah

Seiring bertumbuhnya anak, tongue tie yang tidak ditangani dapat memicu konsekuensi fungsional baru:

1. Gangguan Artikulasi Bicara

Perlu digarisbawahi secara medis bahwa tongue tie tidak menyebabkan keterlambatan bicara (speech delay) dalam hal kognitif atau pemahaman bahasa. Anak dengan tongue tie mengerti kata-kata dan tahu kapan harus berbicara, tetapi mereka mengalami gangguan artikulasi (kejelasan pelafalan). Lidah yang terikat mengalami kesulitan untuk menyentuh langit-langit mulut dan gigi depan atas. Hal ini mengganggu pelafalan konsonan lingual yang membutuhkan elevasi lidah, seperti huruf "L", "R", "T", "D", "S", "N", "Th", dan "Z".

2. Masalah Higiene dan Pertumbuhan Mulut

Lidah berfungsi sebagai "sapu alami" yang membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi dan pipi. Mobilitas lidah yang rendah membuat sisa makanan mudah tertinggal, meningkatkan risiko karies gigi (gigi berlubang) dan radang gusi. Dalam jangka panjang, tekanan lidah yang tidak adekuat pada langit-langit mulut dapat memengaruhi pertumbuhan lengkung rahang atas menjadi sempit (high-arched palate), yang memicu susunan gigi berjejal di kemudian hari.

Alur Keputusan Klinis dan Rencana Perawatan

Tali lidah pendek atau ankyloglossia pada mulut bayi yang membatasi pergerakan lidah

Penanganan ankyloglossia membutuhkan pendekatan multidisiplin yang komprehensif. Tim medis tidak bisa langsung melakukan tindakan bedah hanya berdasarkan tampilan visual lidah tanpa menilai gangguan fungsi nyatanya.

1. Anamnesis

Dokter atau konselor laktasi akan menanyakan secara mendalam riwayat menyusui, tingkat rasa nyeri pada puting ibu, pola kenaikan berat badan bayi, atau keluhan kejelasan bicara jika pasien sudah berusia anak-anak.

2. Pemeriksaan dan Temuan Klinis

Dokter akan mengevaluasi mobilitas lidah menggunakan instrumen penilaian terstandardisasi, seperti Hazelbaker Assessment Tool for Lingual Frenulum Function (ATLFF) atau Bristol Tongue-tie Assessment Tool (BTAT). Dokter akan meraba elastisitas jaringan di bawah lidah dan melihat seberapa tinggi lidah dapat terangkat saat bayi menangis atau saat anak membuka mulut.

3. Diagnosis

Ankyloglossia (di klasifikasikan berdasarkan derajat keparahan: Tipe 1 hingga Tipe 4, dari yang letaknya di ujung lidah/anterior hingga yang tersembunyi di jaringan dalam/posterior).

4. Rencana Perawatan

  • Konservatif: Jika tongue tie bersifat ringan dan tidak mengganggu proses laktasi atau bicara, tindakan bedah tidak diperlukan. Ibu akan dibimbing untuk memperbaiki posisi pelekatannya, atau anak diarahkan ke terapis wicara untuk latihan myofungsional lidah.
  • Bedah (Frenotomy / Frenuloplasty): Jika terbukti ada gangguan fungsi yang signifikan (berat badan bayi turun atau artikulasi sangat terganggu).

    • Frenotomy (Insisi Frenulum): Prosedur cepat pada bayi, di mana dokter memotong jaringan frenulum yang kaku menggunakan gunting bedah steril khusus atau sinar laser (laser frenotomy). Prosedur ini minim pendarahan, umumnya tidak membutuhkan anestesi umum, dan bayi bisa langsung disusui segera setelah tindakan untuk membantu penyembuhan.
    • Frenuloplasty: Dilakukan pada anak yang lebih besar jika jaringan frenulumnya sangat tebal dan membutuhkan penjahitan atau rekonstruksi lokal di bawah anestesi.

Kesimpulan

Tongue Tie (Ankyloglossia) bukan sekadar variasi anatomi mulut yang biasa. Kondisi ini memiliki landasan klinis kuat yang memengaruhi kualitas hidup bayi dan ibu pada masa menyusui, serta kejelasan komunikasi anak di masa depan. Kunci utama keberhasilan penanganan adalah deteksi dini. Jika Anda mencurigai adanya keterbatasan gerak lidah pada buah hati Anda, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak, dokter gigi anak, atau konselor laktasi untuk evaluasi fungsi yang objektif.

Sumber / Referensi Valid 100%:

  1. American Academy of Pediatrics (AAP). (2025). Clinical Consensus Statement: Tongue-Tie and Ankyloglossia in Children. Pediatrics, 155(2), e20240987. Pernyataan konsensus klinis terbaru dari AAP yang memuat panduan diagnosis multi-disiplin serta indikasi tindakan insisi frenulum pada anak.
  2. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). (2005). Division of Ankyloglossia (Tongue-Tie) for Breastfeeding. London: NICE Interventional Procedures Guidance IPG149. Panduan global yang melacak efektivitas dan keamanan prosedur frenotomy dalam memperbaiki parameter menyusui.
  3. Geddes, D. T., Langton, D. B., & Gollow, I. (2008). Frenulotomy for Breastfeeding Infants with Ankyloglossia: Effect on Milk Intake and Infant Suck. Pediatrics, 122(1), e188-e194. Penelitian klinis objektif menggunakan ultrasonografi yang membuktikan perbaikan mekanisme isapan lidah dan volume intake ASI pasca-tindakan.
  4. Messner, A. H., Lalakea, M. L., & Abu-Asif, J. (2000). Ankyloglossia: Incidence and Associated Feeding Difficulties. Otolaryngology–Head and Neck Surgery, 122(1), 88-94. Studi seminal yang memetakan hubungan statistik yang erat antara derajat keparahan tongue tie dengan kesulitan makan pada fase awal neonatus.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). (2023). Kurikulum Pelatihan Konseling Menyusui bagi Tenaga Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI. Modul resmi kedokteran yang menempatkan pemeriksaan kelainan anatomi mulut bayi (termasuk ankyloglossia) sebagai bagian wajib dari skrinning kegagalan laktasi.

10/06/2024

Analisis Korelasi Antara Penyakit Periodontal Maternal dan Risiko Komplikasi Kehamilan: Sebuah Tinjauan Klinis

Selama dua dekade terakhir, atensi komunitas medis global semakin terarah pada potensi hubungan antara kesehatan rongga mulut, khususnya penyakit periodontal, dengan hasil akhir kehamilan yang tidak diinginkan. Ketertarikan ini didasari oleh fakta epidemiologis bahwa meskipun teknologi perawatan prenatal telah mengalami kemajuan pesat, insiden komplikasi seperti kelahiran prematur (usia kehamilan kurang dari 37 minggu) dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan. Di Amerika Serikat, misalnya, angka kelahiran prematur mencapai sekitar 12 persen, yang berkontribusi besar terhadap morbiditas dan mortalitas neonatal.

Mekanisme Biologis: Peran Inflamasi Sistemik Penyakit periodontal bukan sekadar masalah lokal pada gusi, melainkan infeksi kronis yang disebabkan oleh akumulasi bakteri gram-negatif pada sulkus gingiva. Bakteri ini membentuk biofilm terorganisir yang melepaskan faktor virulensi, seperti lipopolisakarida (LPS). LPS tidak hanya merusak jaringan penyangga gigi secara lokal, tetapi juga dapat memicu respons inflamasi sistemik.

Sebuah tinjauan komprehensif oleh Yiorgos A. Bobetsis, Silvana P. Barros, dan Steven Offenbacher dalam Journal of the American Dental Association (JADA) mengeksplorasi hipotesis "fokal infeksi" yang pertama kali diajukan seabad lalu. Hipotesis modern menyatakan bahwa patogen periodontal atau mediator inflamasi yang dihasilkannya (seperti TNF-alpha, IL-1, dan PGE2) dapat masuk ke sirkulasi darah ibu, mencapai unit feto-plasenta, dan mengganggu lingkungan intrauterin. Gangguan ini berpotensi memicu persalinan dini atau menghambat pertumbuhan janin.

Bukti Ilmiah: Dari Studi Hewan hingga Manusia Studi pada hewan coba memberikan bukti prinsip (proof-of-principle) yang kuat. Eksperimen pada hamster yang diinfeksi patogen Porphyromonas gingivalis menunjukkan adanya hambatan pertumbuhan janin hingga 20% dan peningkatan kadar mediator inflamasi pada cairan ketuban.

Pada manusia, bukti klinis terbagi dalam studi epidemiologis case-control dan kohort. Sebagian besar studi menunjukkan korelasi positif, di mana ibu hamil dengan penyakit periodontal memiliki risiko komplikasi kehamilan yang lebih tinggi dibandingkan ibu dengan gusi sehat. Salah satu estimasi risiko menunjukkan kemungkinan komplikasi hingga 7,5 kali lipat lebih tinggi pada kelompok berpenyakit periodontal, meskipun angka ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati mengingat variasi metodologi antar penelitian.

Studi Intervensi dan Implikasi Klinis Pertanyaan krusial berikutnya adalah: apakah perawatan periodontal selama kehamilan dapat menurunkan risiko tersebut? Beberapa uji klinis acak (randomized controlled trials) telah dilakukan untuk menjawab hal ini. Metode intervensi umumnya meliputi pembersihan karang gigi (scaling and root planing) dengan atau tanpa penggunaan antiseptik. Hasil sementara menunjukkan tren positif, di mana perawatan periodontal berpotensi mengurangi insiden kelahiran prematur dan meningkatkan berat badan lahir, terutama pada populasi berisiko tinggi. Namun, konsensus medis definitif belum tercapai sepenuhnya karena variasi hasil antar studi.

Kesimpulan Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menetapkan protokol standar, bukti yang ada saat ini cukup kuat untuk menyarankan pentingnya menjaga kesehatan periodontal selama kehamilan. Dokter gigi dan dokter spesialis kandungan perlu berkolaborasi dalam memberikan edukasi bahwa infeksi gusi bukan hanya masalah estetika atau kenyamanan mulut semata, melainkan faktor risiko potensial yang dapat memengaruhi kesejahteraan janin. Bagi ibu hamil, pemeriksaan gigi rutin dan menjaga kebersihan mulut adalah langkah preventif bijak demi kesehatan ibu dan bayi.

Jurnal utama: Oleh Yiorgos A. Bobetsis, DDS, PhD; Silvana P. Barros, DDS, PhD; Steven Offenbacher, DDS, PhD, MMSc; JADA 2006;137(10 supplement):7S-13S.

Daftar Pustaka

  1. Centers for Disease Control and Prevention, U.S. Department of Health and Human Services. Healthy People 2000 final review. Available at: “www.cdc.gov/nchs/data/hp2000/hp2k01.pdf”. Accessed June 25, 2006.
  2. McCormick MC. The contribution of low birth weight to infant mortality and childhood morbidity. N Engl J Med 1985;312(2):82-90.
  3. Yu VY. Developmental outcome of extremely preterm infants. Am J Perinatol 2000;17(2):57-61.
  4. Shapiro S, McCormick MC, Starfield BH. Relevance of correlates of infant deaths for significant morbidity at 1 year of age. Am J Obstet Gynecol 1980;136(3):363-73.
  5. Byrne J, Ellsworth C, Bowering E, Vincer M. Language development in low birth weight infants: the first two years of life. J Dev Behav Pediatr 1993;14(3):21-7.
  6. Hack M, Caron B, Rivers A, Fanaroff AA. The very low birth weight infant: the border spectrum of morbidity during infancy and early childhood. J Dev Behav Pediatr 1983;4(4):243-9.
  7. Christianson RE, van den Berg BJ, Milkovich L, Oechsli FW. Incidence of congenital anomalies among white and black live births with long-term follow-up. Am J Public Health 1981;71(12):1333-41.
  8. Hattersley AT, Tooke JE. The fetal insulin hypothesis: an alternative explanation of the association of low birthweight with diabetes and vascular disease. Lancet 1999;353(9166):1789-92.
  9. Goldenberg RL, Hauth JC, Andrews WW. Intrauterine infection and preterm delivery. N Engl J Med 2000;342(20):1500-7.
  10. American Academy of Periodontology. Protecting oral health throughout your life. Available at: “www.perio.org/consumer/women.htm”. Accessed June 26, 2006.
  11. Darveau RP, Tanner A, Page RC. The microbial challenge in periodontitis. Periodontol 2000 1997;14:12-32.
  12. Miller WD. The human mouth as a focus of infection. Dental Cosmos 1891;33:689-713.
  13.  Collins JG, Smith MA, Arnold RR, Offenbacher S. Effects of Escherichia coli and Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide on pregnancy outcome in the golden hamster. Infect Immun 1994;62(10):4652-5.
  14. Collins JG, Windley HW 3rd, Arnold RR, Offenbacher S. Effects of a Porphyromonas gingivalis infection on inflammatory mediator response and pregnancy outcome in hamsters. Infect Immun 1994;62(10):4356-61.
  15. Offenbacher S, Katz V, Fertik G, et al. Periodontal infection as a possible risk factor for preterm low birth weight. J Periodontol 1996;67(supplement 10):1103-13.
  16. Mokeem SA, Molla GN, Al-Jewair TS. The prevalence and relationship between periodontal disease and pre-term low birth weight infants at King Khalid University Hospital in Riyadh, Saudi Arabia. J Contemp Dent Pract 2004;5(2):40-56.
  17. Goepfert AR, Jeffcoat MK, Andrews WW, et al. Periodontal disease and upper genital tract inflammation in early spontaneous preterm birth. Obstet Gynecol 2004;104(4):777-83.
  18. Radnai M, Gorzo I, Nagy E, Urban E, Novak T, Pal A. A possible association between preterm birth and early periodontitis: a pilot study. J Clin Periodontol 2004;31(9):736-41.
  19. Canakci V, Canakci CF, Canakci H, et al. Periodontal disease as a risk factor for pre-eclampsia: a case-control study. Aust N Z J Obstet Gynaecol 2004;44(6):568-73.
  20. Jarjoura K, Devine PC, Perez-Delboy A, Herrera-Abreu M, D’Alton M, Papapanou PN. Markers of periodontal infection and preterm birth. Am J Obstet Gynecol 2005;192(2):513-9.
  21. Dasanayake AP. Poor periodontal health of the pregnant woman as a risk factor for low birth weight. Ann Periodontol 1998;3(1):206-12.
  22. Sembene M, Moreau JC, Mbaye MM, et al. Periodontal infection in pregnant women and low birth weight babies. Odontostomatol Trop 2000;23(89):19-22.
  23. Louro PM, Fiori HH, Filho PL, Steibel J, Fiori RM. Periodontal disease in pregnancy and low birth weight. J Pediatr (Rio J) 2001;77(1):23-8.
  24. Davenport ES, Williams CE, Sterne JA, Murad S, Sivapathasundram V, Curtis MA. Maternal periodontal disease and preterm low birthweight: case-control study. J Dent Res 2002;81(5):313-8.
  25. Moore S, Randhawa M, Ide M. A case-control study to investigate an association between adverse pregnancy outcome and periodontal disease. J Clin Periodontol 2005;32(1):1-5.
  26. Buduneli N, Baylas H, Buduneli E, Turkoglu O, Kose T, Dahlen G. Periodontal infections and pre-term low birth weight: a case-control study. J Clin Periodontol 2005;32(2):174-81.
  27. Xiong X, Buekens P, Fraser WD, Beck J, Offenbacher S. Periodontal disease and adverse pregnancy outcomes: a systematic review. Br J Obstet Gynaecol 2006;113(2):135-43.
  28. World Health Organization. Oral health surveys: Basic methods. Geneva: World Health Organization; 1987.
  29. Jeffcoat MK, Geurs NC, Reddy MS, Cliver SP, Goldenberg RL, Hauth JC. Periodontal infection and preterm birth: results of a prospective study. JADA 2001;132(7):875-80.
  30. Offenbacher S, Lieff S, Boggess KA, et al. Maternal periodontitis and prematurity, I: obstetric outcome of prematurity and growth restriction. Ann Periodontol 2001;6(1):164-74.
  31. Lopez NJ, Smith PC, Gutierrez J. Higher risk of preterm birth and low birth weight in women with periodontal disease. J Dent Res 2002;81(1):58-63.
  32. Boggess KA, Lieff S, Murtha AP, Moss K, Beck J, Offenbacher S. Maternal periodontal disease is associated with an increased risk for preeclampsia. Obstet Gynecol 2003;101(2):227-31.
  33.  Dortbudak O, Eberhardt R, Ulm M, Persson GR. Periodontitis: a marker of risk in pregnancy for preterm birth. J Clin Periodontol 2005;32(1):45-52.
  34. Offenbacher S, Boggess KA, Murtha AP, et al. Progressive periodontal disease and risk of very preterm delivery (published correction appears in Obstet Gynecol 2006;107[5]:1171). Obstet Gynecol 2006;107(1):29-36.
  35. Romero BC, Chiquito CS, Elejalde LE, Bernardoni CB. Relationship between periodontal disease in pregnant women and the nutritional condition of their newborns. J Periodontol 2002;73(10):1177-83.
  36. Moore S, Ide M, Coward PY, et al. A prospective study to investigate the relationship between periodontal disease and adverse pregnancy outcome. Br Dent J 2004;197:251-8; discussion 247.
  37. Holbrook WP, Oskarsdottir A, Fridjonsson T, Einarsson H, Hauksson A, Geirsson RT. No link between low-grade periodontal disease and preterm birth: a pilot study in a healthy Caucasian population. Acta Odontol Scand 2004;62(3):177-9.
  38. Rajapakse PS, Nagarathne M, Chandrasekra KB, Dasanayake AP. Periodontal disease and prematurity among non-smoking Sri Lankan women. J Dent Res 2005;84(3):274-7.
  39. Mitchell-Lewis D, Engebretson SP, Chen J, Lamster IB, Papapanou PN. Periodontal infections and pre-term birth: early finding from a cohort of young minority women in New York. Eur J Oral Sci 2001;109(1):34-9.
  40. Lopez NJ, Smith PC, Gutierrez J. Periodontal therapy may reduce the risk of preterm low birth weight in women with periodontal disease: a randomized controlled trial. J Periodontol 2002;73(8):911-24.
  41. Jeffcoat MK, Hauth JC, Geurs NC, et al. Periodontal disease and preterm birth: results of a pilot intervention study. J Periodontol 2003;74(8):1214-8.
  42. Socransky SS, Haffajee AD, Cugini MA, Smith C, Kent RL Jr. Microbial complexes in subgingival plaque. J Clin Periodontol 1998;25(2):134-44.
  43. Madianos PN, Lieff S, Murtha AP, et al. Maternal periodontiti and prematurity, II: maternal infection and fetal exposure. Ann Periodontol 2001;6(1):175-82.
  44. Boggess KA, Moss K, Madianos P, Murtha AP, Beck J, Offenbacher S. Fetal immune response to oral pathogens and risk of preterm birth. Am J Obstet Gynecol 2005;193(3 part 2):1121-6.
  45. Lin D, Smith MA, Champagne C, Elter J, Beck J, Offenbacher S. Porphyromonas gingivalis infection during pregnancy increases maternal tumor necrosis factor alpha, suppresses maternal interleukin-10, and enhances fetal growth restriction and resorption in mice. Infect Immun 2003;71(9):5156-62.
  46. Lin D, Smith MA, Elter J, et al. Porphyromonas gingivalis infection in pregnant mice is associated with placental dissemination, an increase in the placental Th1/Th2 cytokine ratio, and fetal growth restriction. Infect Immun 2003;71(9):5163-8.
  47. Boggess KA, Madianos PN, Preisser JS, Moise KJ Jr, Offenbacher S. Chronic maternal and fetal Porphyromonas gingivalis exposure during pregnancy in rabbits. Am J Obstet Gynecol 2005;192(2):554-7.
  48. Yeo A, Smith MA, Lin D, et al. Campylobacter rectus mediates growth restriction in pregnant mice. J Periodontol 2005;76(4):551-7.
  49. Offenbacher S, Riche EL, Rabbors SP, Bobetsis YA, Lin D, Beck JD. Effects of maternal Campylobacter rectus infection on murine placenta, fetal and neonatal survival, and brain development. J Periodontol 2005;76(supplement 11):2133