Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

21/12/2025

Mengenal Early Childhood Caries (ECC): Penyebab dan Cara Mengatasi Karies Gigi pada Anak

Cara pencegahan Early Childhood Caries
Terakhir diperbarui: Desember 2025

Early Childhood Caries (ECC) atau karies anak usia dini merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang signifikan. Meskipun sering kali dianggap sebagai "karies susu" biasa, ECC adalah penyakit infeksi kronis yang progresif dan dapat memengaruhi kualitas hidup anak secara keseluruhan, termasuk gangguan pertumbuhan, rasa sakit yang hebat, hingga masalah psikologis.

Apa itu ECC?

Kesehatan gigi susu sering kali dianggap remeh karena sifatnya yang sementara. Padahal, kerusakan gigi pada usia dini atau yang secara medis disebut Early Childhood Caries (ECC) dapat berdampak serius pada tumbuh kembang si kecil.

Mari kita bahas lebih dalam mengenai apa itu ECC, ciri-cirinya, serta bagaimana cara memutus rantai penularan bakteri penyebab karies. Berdasarkan standar American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD), ECC didefinisikan sebagai adanya satu atau lebih kerusakan gigi (baik lesi dengan atau tanpa kavitas), kehilangan gigi akibat karies, atau adanya tumpuan pada permukaan gigi susu pada anak usia 71 bulan (5 tahun) atau kurang.

ECC adalah kondisi munculnya satu atau lebih kerusakan gigi (baik berupa lubang, kehilangan gigi akibat karies, atau tambalan) pada anak usia di bawah 6 tahun. Di Indonesia, kondisi ini sering dikenal dengan istilah "karies botol", meski penyebabnya bukan hanya sekadar botol susu.

Kondisi yang lebih berat, yaitu Severe Early Childhood Caries (S-ECC), didiagnosis jika ditemukan tanda-tanda berikut:

  • Anak usia <3 tahun dengan tanda karies pada permukaan halus (smooth surface).
  • Anak usia 3–5 tahun dengan skor DMF-T (decayed, missing, filled teeth) yang tinggi sesuai kategori usia.

2. Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab ECC bersifat multifaktorial, yang sering digambarkan dalam lingkaran klasiknya: Gigi (Host), Mikroorganisme, Diet (Karbohidrat Fermentasi), dan Waktu.

  • Mikroorganisme: Bakteri Streptococcus mutans dan Streptococcus sobrinus adalah agen utama. Transmisi bakteri ini sering kali terjadi secara vertikal dari ibu/pengasuh kepada anak melalui berbagi alat makan atau ciuman.
  • Pola Makan: Penggunaan botol susu (dot) berisi cairan manis (susu formula, jus, atau teh manis) yang diberikan menjelang tidur adalah faktor risiko utama. Saat tidur, aliran saliva (air liur) menurun drastis, sehingga cairan manis akan menggenangi gigi dalam waktu lama dan difermentasi menjadi asam oleh bakteri.
  • Struktur Gigi: Hipoplasia email (pembentukan email yang tidak sempurna) pada masa prenatal atau perinatal membuat gigi lebih rentan terhadap demineralisasi.

3. Manifestasi Klinis

ECC memiliki pola yang khas. Kerusakan biasanya dimulai pada permukaan labial (depan) gigi insisivus rahang atas, tepat di sepanjang garis gusi. Sebaliknya, gigi insisivus rahang bawah sering kali tetap sehat karena terlindungi oleh posisi lidah dan aliran saliva dari kelenjar submandibularis.

Ciri-ciri ECC pada Balita yang Harus Diwaspadai

Orang tua perlu melakukan pengecekan rutin pada gigi anak. Berikut adalah tahapan ciri-ciri ECC dari mulai yang ringan hingga parah:

  • Bercak Putih Kapur (White Spot): Muncul garis putih di sepanjang garis gusi. Ini adalah tanda awal demineralisasi (hilangnya mineral gigi).
  • Perubahan Warna Menjadi Cokelat/Hitam: Jika dibiarkan, bercak putih akan berubah menjadi noda kecokelatan yang menandakan struktur gigi mulai lunak.
  • Gigi Tampak "Gripis" atau Patah: Kerusakan yang berlanjut akan membuat mahkota gigi tampak terkikis habis, terutama pada gigi seri depan atas.
  • Gusi Bengkak atau Muncul Bisul (Abses): Infeksi telah mencapai saraf gigi, menyebabkan rasa nyeri dan pembengkakan pada gusi.
  • Anak Menjadi Rezel/Sulit Makan: Rasa linu atau nyeri saat mengunyah membuat balita sering menolak makanan atau menangis tanpa sebab yang jelas.

4. Pencegahan dan Penanganan Terkini

Banyak yang belum tahu bahwa karies adalah penyakit menular. Bakteri utama penyebab karies, Streptococcus mutans, tidak ada di mulut bayi saat lahir, melainkan ditularkan dari pengasuh (biasanya orang tua).

Berikut adalah tips pencegahan untuk memutus rantai penularan bakteri tersebut:

1. Hindari Kontak Saliva (Air Liur) Langsung

Bakteri berpindah melalui air liur. Untuk mencegahnya, hindari kebiasaan berikut:

  • Berbagi sendok atau alat makan yang sama dengan anak.
  • Meniup makanan anak untuk mendinginkannya.
  • Membersihkan dot (pacifier) yang jatuh dengan mulut orang tua sebelum diberikan kembali ke anak.
  • Mencium anak tepat di bagian bibir.

2. Jaga Kebersihan Mulut Orang Tua

Semakin tinggi tingkat kerusakan gigi pada orang tua, semakin besar jumlah bakteri yang bisa ditularkan ke anak. Pastikan orang tua rutin menyikat gigi dan melakukan pembersihan karang gigi ke dokter gigi.

3. Pola Makan Sehat (Dietary Control)

  • Batasi pemberian susu botol saat anak menjelang tidur (terutama jika susu mengandung gula).
  • Kurangi konsumsi camilan manis dan lengket seperti permen atau biskuit.
  • Biasakan anak minum air putih setelah makan atau minum susu.

4. Rutinitas Sikat Gigi Sejak Dini

  • Sikat gigi anak segera setelah gigi pertama tumbuh.
  • Gunakan pasta gigi mengandung Fluoride (ukuran biji beras untuk anak <3 tahun, dan ukuran kacang polong untuk usia 3-6 tahun) untuk memperkuat email gigi.

Pengetahuan terbaru menekankan bahwa pencegahan harus dimulai sejak masa kehamilan dan segera setelah gigi pertama erupsi.

  • Manajemen Diet: Membatasi konsumsi gula bebas dan menghentikan kebiasaan minum botol sambil tidur. Anak sebaiknya mulai diperkenalkan minum dengan gelas (cup) pada usia 12 bulan.
  • Penggunaan Fluoride: Penggunaan pasta gigi berfluoride (1000 ppm) dalam jumlah seukuran biji beras untuk anak di bawah 3 tahun sangat direkomendasikan. Aplikasi Fluoride Varnish secara profesional setiap 3-6 bulan juga terbukti efektif.
  • Intervensi Minimal Invasif: Penggunaan Silver Diamine Fluoride (SDF) kini menjadi pilihan populer dalam kedokteran gigi anak untuk menghentikan progresivitas karies tanpa perlu pengeboran pada anak yang non-kooperatif.

5. Kesimpulan

Mencegah ECC jauh lebih mudah dan ekonomis daripada mengobatinya. Dengan mengenali ciri-ciri awal dan menjaga kebersihan lingkungan keluarga, Anda dapat memastikan si kecil tumbuh dengan senyum yang sehat dan percaya diri.

Pesan Penting: Jangan menunggu anak sakit gigi untuk pergi ke dokter. Kunjungan pertama ke dokter gigi sebaiknya dilakukan saat gigi pertama tumbuh atau paling lambat saat anak berusia satu tahun.


Referensi:

  1. American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). (2023). Policy on Early Childhood Caries (ECC): Classifications, Consequences, and Preventive Strategies. Reference Manual.
  2. World Health Organization (WHO). (2019). Ending Childhood Dental Caries: A WHO Implementation Manual. Geneva.
  3. Pitts, N. B., et al. (2017). "Dental caries." Nature Reviews Disease Primers. Vol 3.
  4. Colak, H., et al. (2013). "Early childhood caries update: A review of causes, diagnoses, and treatments." Journal of Natural Science, Biology, and Medicine.
  5. Gussy, M. G., et al. (2006). "Early childhood caries: Current evidence for aetiology and prevention." Journal of Paediatrics and Child Health.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar