Setelah vakum beberapa waktu dari aktivitas menulis di blog ini, penulis kembali hadir menyapa Anda semua. Mengingat suasana yang masih fitri ini, sebelum kita menyelami pembahasan teknis, izinkan penulis mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1431 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga semangat kemenangan setelah melewati bulan Ramadan terus menyertai kita dalam beraktivitas, termasuk dalam menempuh studi maupun praktik profesional.
Pada kesempatan kali ini, kita akan kembali membahas topik biomaterial yang terlihat sederhana namun sangat fundamental dalam pembuatan gigi tiruan, yaitu Dental Waxes atau Malam Kedokteran Gigi.
Apa Itu Dental Waxes?
Dalam istilah awam, kita sering menyebutnya "lilin". Namun, dalam konteks medis, kita menggunakan istilah "malam". Dental wax adalah campuran berbagai jenis bahan termoplastik yang memiliki sifat melunak saat dipanaskan dan mengeras saat didinginkan. Bahan ini digunakan untuk membuat pola (pattern) dari restorasi gigi yang nantinya akan digantikan oleh logam atau keramik melalui proses pengecoran.
Secara komposisi, dental wax umumnya terdiri dari kombinasi malam alami (seperti paraffin, beeswax, dan carnauba) serta malam sintetis untuk mendapatkan sifat fisik yang diinginkan, seperti rentang lebur (melting range) yang spesifik.
Klasifikasi Dental Waxes
Agar tidak salah dalam penggunaannya, malam kedokteran gigi diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama berdasarkan fungsinya:
1. Pattern Waxes (Malam Pola) Kelompok ini digunakan untuk membentuk model tiruan gigi yang presisi sebelum diproses menjadi bahan akhir.
Inlay Wax: Malam yang sangat keras dan rapuh, digunakan untuk membuat pola restorasi mahkota (crown), jembatan (bridge), atau inlay yang membutuhkan detail tinggi. * Casting Wax: Digunakan khusus untuk membuat pola kerangka logam pada gigi tiruan sebagian lepasan.
Baseplate Wax: Inilah yang paling sering dilihat pasien. Berwarna merah muda dan berbentuk lembaran, digunakan sebagai basis sementara dalam penyusunan gigi tiruan lengkap (full denture) untuk menentukan gigitan pasien.
2. Processing Waxes (Malam Proses) Malam ini berfungsi sebagai alat bantu dalam proses pekerjaan laboratorium.
Boxing Wax: Lembaran malam lunak yang digunakan untuk memagari cetakan gips agar hasil coran menjadi rapi.
Utility Wax: Malam yang sangat lunak dan lengket, bisa dibentuk dengan tangan tanpa pemanasan. Sering digunakan untuk memodifikasi sendok cetak agar lebih nyaman di mulut pasien.
Sticky Wax: Sangat keras dan getas pada suhu ruang, namun sangat lengket saat dipanaskan. Berfungsi sebagai "lem" sementara untuk menyambung patahan gips atau logam saat perbaikan.
3. Impression Waxes (Malam Cetak) Meskipun jarang digunakan sebagai bahan cetak utama, malam jenis ini (seperti Corrective Wax) digunakan untuk mengoreksi detail cetakan pada area yang sulit dijangkau atau untuk merekam gigitan rahang (bite registration).
Relevansi di Era Digital
Meskipun teknologi kedokteran gigi kini telah merambah ke era digital (CAD/CAM), pengetahuan tentang dental wax tetap relevan. Dalam beberapa teknik modern, dokter gigi mungkin mendesain gigi secara digital, namun mesin kemudian mencetak (print) atau mengukir (mill) desain tersebut menggunakan bahan wax khusus yang dapat dibakar habis tanpa sisa (burn-out), menggabungkan presisi digital dengan teknik pengecoran konvensional.
Penutup
Pemahaman mengenai sifat fisik malam—seperti ekspansi termal dan daya alir—sangat penting bagi dokter gigi dan tekniker. Kesalahan dalam manipulasi malam dapat menyebabkan hasil akhir gigi tiruan yang tidak pas (fit) saat dipasang ke pasien.
Demikian ulasan singkat mengenai biomaterial dental waxes. Semoga bermanfaat sebagai penyegar ingatan bagi rekan sejawat dan informasi baru bagi pembaca sekalian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar