Dalam dunia kedokteran gigi, keberhasilan sebuah perawatan tidak hanya bergantung pada keterampilan tangan seorang dokter gigi, tetapi juga sangat ditentukan oleh kualitas dan jenis bahan yang digunakan. Bahan-bahan inilah yang dikenal sebagai biomaterial. Sebagai pengantar pengetahuan dasar (yang merujuk pada materi fundamental dari para ahli seperti drg. Pung, drg. Narin, drg. Nina, drg. Wiji, drg. Wido, dan drg. Harsini), artikel ini akan menguraikan apa itu biomaterial, persyaratannya, serta perkembangannya dalam praktik klinis modern.
Definisi Biomaterial
Secara sederhana, biomaterial dalam kedokteran gigi dapat didefinisikan sebagai segala jenis materi—baik alami maupun sintetis—yang digunakan untuk menggantikan, memperbaiki, atau merekonstruksi struktur gigi dan jaringan mulut yang hilang atau rusak. Berbeda dengan benda mati biasa, biomaterial harus mampu berinteraksi dengan sistem biologis tubuh manusia (jaringan hidup) tanpa menimbulkan dampak negatif.
Persyaratan Utama: Biokompatibilitas
Syarat mutlak dari setiap biomaterial adalah biokompatibilitas. Artinya, bahan tersebut harus dapat diterima oleh tubuh. Sebuah material dikatakan biokompatibel jika:
Tidak Toksik: Tidak meracuni sel atau jaringan tubuh.
Tidak Iritatif: Tidak menyebabkan peradangan pada gusi atau pulpa gigi.
Tidak Karsinogenik: Tidak memicu pertumbuhan sel kanker.
Tahan Korosi: Tidak mudah berkarat atau larut dalam suasana asam di rongga mulut.
Selain aspek biologis, biomaterial juga harus memenuhi persyaratan fisik dan mekanis, seperti kekuatan menahan beban kunyah (mastikasi) yang besar, ketahanan terhadap keausan, serta stabilitas dimensi agar tidak berubah bentuk dalam jangka panjang.
Klasifikasi Biomaterial Kedokteran Gigi
Berdasarkan jenis senyawanya, biomaterial umumnya dikelompokkan menjadi empat kategori utama:
Logam (Metals) Logam telah digunakan sejak lama karena kekuatannya yang tinggi. Contohnya meliputi Stainless Steel untuk kawat ortodontik (behel), emas untuk mahkota tiruan, hingga Titanium yang kini menjadi standar emas (gold standard) untuk implan gigi karena kemampuannya menyatu dengan tulang (osseointegrasi).
Keramik (Ceramics) Keramik kedokteran gigi, seperti porselen dan zirkonia, sangat populer karena nilai estetikanya yang mampu meniru warna alami gigi. Meskipun pada awalnya cenderung getas (mudah pecah), teknologi terbaru telah menghasilkan keramik modern yang sangat keras dan tahan pecah.
Polimer (Polymers) Bahan ini sering kita temui dalam bentuk resin akrilik untuk pembuatan basis gigi tiruan (gigi palsu) atau resin komposit untuk penambalan gigi estetis. Polimer menawarkan kemudahan manipulasi dan biaya yang relatif lebih ekonomis.
Komposit (Composites) Komposit adalah gabungan dari dua atau lebih jenis material untuk mendapatkan sifat unggul. Contoh paling umum adalah bahan tambal resin komposit, yang menggabungkan matriks polimer dengan partikel pengisi (filler) keramik/kaca untuk mendapatkan kekuatan sekaligus keindahan.
Perkembangan Terkini: Menuju Material Bioaktif
Seiring kemajuan teknologi, paradigma biomaterial telah bergeser dari sekadar bahan yang "pasif" (hanya menambal lubang) menjadi bahan yang "bioaktif".
Pengetahuan terbaru menunjukkan bahwa material masa kini, seperti Glass Ionomer Cement (GIC) atau semen kalsium silikat, mampu melepaskan ion-ion tertentu (seperti fluorida atau kalsium) yang membantu remineralisasi gigi dan mencegah gigi berlubang kembali. Selain itu, tren penggunaan amalgam (tambalan perak) kini mulai ditinggalkan secara global karena isu lingkungan terkait merkuri, digantikan oleh material komposit dan keramik yang lebih ramah lingkungan dan estetis.
Kesimpulan
Pemahaman mengenai biomaterial adalah kunci dalam menentukan rencana perawatan yang tepat. Bagi pasien, mengetahui jenis bahan yang masuk ke dalam mulut memberikan rasa aman dan percaya diri. Bagi praktisi, pemilihan biomaterial yang tepat—sesuai indikasi klinis dan perkembangan teknologi—adalah jaminan bagi keberhasilan perawatan jangka panjang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar