Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

10/12/2009

Hiposalivasi pada Pasien Geriatri: Etiologi, Dampak Klinis, dan Strategi Penatalaksanaan Komprehensif

Saliva (air liur) memegang peranan fisiologis yang jauh lebih kompleks daripada sekadar cairan pelumas rongga mulut. Saliva adalah pertahanan pertama tubuh yang menjaga pH netral, menyediakan ion kalsium dan fosfat untuk remineralisasi gigi, serta mengandung enzim antimikroba vital seperti imunoglobulin-A, laktoferin, dan histatin.

Pada populasi lanjut usia (geriatri), penurunan aliran saliva—dikenal secara medis sebagai hiposalivasi—menjadi fenomena yang k kian umum. Kondisi ini sering bermanifestasi sebagai keluhan subjektif mulut kering atau xerostomia. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa hal ini terjadi dan bagaimana penanganannya dalam praktik kedokteran gigi modern.

Mitos dan Fakta: Apakah Penuaan Menyebabkan Mulut Kering?

Paradigma lama menganggap bahwa fungsi kelenjar saliva menurun secara alami seiring bertambahnya usia. Namun, konsensus medis terkini menegaskan bahwa pada individu yang sehat, produksi dan komposisi saliva relatif stabil meskipun usia bertambah.

Oleh karena itu, hiposalivasi pada lansia bukanlah konsekuensi normal dari penuaan, melainkan akibat dari tiga faktor utama:

  1. Polifarmasi: Penggunaan banyak obat-obatan untuk penyakit sistemik.

  2. Penyakit Sistemik: Seperti Sindrom Sjogren, Diabetes Melitus, dan penyakit autoimun.

  3. Terapi Medis: Terutama radioterapi pada area kepala dan leher yang menyebabkan kerusakan permanen pada kelenjar saliva.

Beban Penyakit dan Dampak Klinis

Xerostomia terjadi pada sekitar 30% populasi berusia di atas 65 tahun. Dampaknya sangat signifikan terhadap kualitas hidup pasien, meliputi:

  • Gangguan Fungsi: Kesulitan mengunyah, menelan (disfagia), dan berbicara (disartria). Pasien sering menunjukkan cracker sign, yaitu ketidakmampuan memakan makanan kering (seperti biskuit) tanpa bantuan air minum.

  • Masalah Gigi Tiruan: Retensi gigi tiruan yang buruk, menyebabkan rasa sakit dan lecet pada mukosa.

  • Infeksi Rongga Mulut: Peningkatan risiko infeksi jamur (Candidiasis), sariawan (ulkus), dan peradangan sudut bibir (angular cheilitis).

  • Karies Gigi yang Agresif: Penurunan saliva menghilangkan fungsi pembersihan alami, menyebabkan karies servikal (leher gigi) dan karies akar yang cepat meluas.

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis mendalam mengenai riwayat medis dan obat-obatan. Tanda klinis yang khas meliputi:

  • Mukosa mulut tampak kering, merah, dan mengkilat.

  • Lidah tampak berlobus (beralur-alur) dan kehilangan papila (depapilasi).

  • Alat pemeriksaan (kaca mulut) sering lengket pada pipi bagian dalam.

  • Tidak adanya genangan saliva (pooling saliva) di dasar mulut.

Pengukuran objektif dapat dilakukan dengan sialometri. Pada kondisi normal, aliran saliva tanpa stimulasi setidaknya >0,1 mg/menit. Penurunan hingga 50% dari nilai normal biasanya sudah memicu keluhan subjektif mulut kering.

Strategi Penatalaksanaan

Penanganan hiposalivasi pada lansia memerlukan pendekatan multifaset, mulai dari stimulasi lokal hingga terapi farmakologis.

1. Perawatan Paliatif dan Substitusi

  • Hidrasi: Pasien dianjurkan minum air sedikit-sedikit namun sering sepanjang hari.

  • Saliva Buatan: Penggunaan saliva substitute yang mengandung musin atau karboksimetilselulosa untuk melumasi mukosa.

  • Pelembab: Menggunakan pelembab ruangan (humidifier) saat tidur untuk mengurangi kekeringan saat bernapas melalui mulut.

2. Stimulasi Saliva

  • Stimulasi Mekanis: Mengunyah permen karet bebas gula (terutama yang mengandung Xylitol) dapat merangsang sisa kelenjar saliva yang masih berfungsi.

  • Stimulasi Farmakologis: Obat-obatan parasimpatomimetik seperti Pilocarpine (5-10 mg) atau Cevimeline dapat diresepkan dokter untuk merangsang produksi saliva sistemik. Namun, penggunaannya harus hati-hati pada pasien dengan asma atau glaukoma dan memerlukan pemantauan efek samping seperti keringat berlebih.

3. Pencegahan Penyakit Gigi

Karena risiko karies yang tinggi, pasien hiposalivasi memerlukan perlindungan ekstra:

  • Sikat gigi dengan pasta gigi berfluoride tinggi.

  • Aplikasi gel fluoride topikal atau klorheksidin secara rutin.

  • Kontrol ke dokter gigi yang lebih sering untuk deteksi dini lubang gigi.

Kesimpulan

Hiposalivasi pada pasien geriatri adalah kondisi medis yang kompleks dengan dampak serius terhadap nutrisi dan kesejahteraan psikologis. Kondisi ini tidak boleh diabaikan sebagai "faktor usia" semata. Dengan diagnosis yang tepat dan manajemen yang proaktif, kualitas hidup pasien lansia dapat dipertahankan secara optimal.


Referensi: Gupta A, Epstein JB, Sroussi H. Hyposalivation in elderly patients. J Can Dent Assoc 2006; 72(9):841–6.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar