Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

17/12/2009

Biokimia Unsur Runutan (Trace Elements): Peran Mikronutrien Vital dalam Fisiologi Tubuh Manusia

Dalam sistem biokimia tubuh manusia, terdapat kelompok mineral yang meskipun dibutuhkan dalam kuantitas sangat kecil (mikrogram hingga miligram), peranannya sangat vital bagi kelangsungan proses fisiologis. Kelompok ini dikenal sebagai Unsur Runutan atau Trace Elements.

Beberapa unsur utama dalam kategori ini meliputi Besi (Fe), Tembaga (Cu), Iodium (I), Seng (Zn), Mangan (Mn), Kobalt (Co), Molibdenum (Mo), Selenium (Se), dan Kromium (Cr). Kekurangan atau kelebihan (toksisitas) dari unsur-unsur ini dapat memicu gangguan kesehatan yang serius, mulai dari anemia hingga gangguan neurologis.

Artikel ini akan mengulas mekanisme metabolisme dan peran biologis dari beberapa unsur runutan utama.

1. Kobalt (Co)

Kobalt adalah komponen inti dari Vitamin B12 (Kobalamin). Manusia tidak dapat mensintesis Vitamin B12 sendiri, sehingga sangat bergantung pada asupan makanan atau sintesis bakteri usus.

  • Metabolisme: Kobalt anorganik diserap di usus halus dan menggunakan jalur transportasi yang sama dengan zat besi. Menariknya, penyerapan kobalt cenderung meningkat pada individu dengan penyakit hati atau kondisi kelebihan zat besi (hemokromatosis).

  • Ekskresi: Sebagian besar kobalt diekskresikan melalui urine.

  • Toksisitas: Relatif rendah pada manusia, namun paparan berlebih tetap harus dihindari.

2. Tembaga (Cu)

Tubuh manusia dewasa mengandung sekitar 100 mg tembaga, dengan konsentrasi tertinggi tersimpan di organ vital seperti hati, otak, ginjal, dan jantung.

  • Absorpsi & Transportasi: Penyerapan terjadi di saluran pencernaan. Di dalam sel mukosa usus, tembaga mungkin diikat oleh protein metalotionein. Setelah masuk ke sirkulasi darah, tembaga diangkut ke hati—biasanya terikat pada asam amino (histidin) atau albumin.

  • Peran Hati dalam Regulasi Tembaga: Hati adalah pusat metabolisme tembaga yang memprosesnya melalui dua jalur utama:

    1. Ekskresi Bilier: Tembaga dikeluarkan kembali ke usus melalui empedu untuk dibuang bersama feses. Ini adalah mekanisme utama tubuh menjaga keseimbangan (homeostasis) tembaga.

    2. Sintesis Seruloplasmin: Tembaga digabungkan menjadi bagian dari Seruloplasmin, sebuah glikoprotein yang disintesis hati. Seruloplasmin mengandung 6-8 atom tembaga dan berfungsi sebagai enzim ferroksidase (mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+), yang krusial untuk transportasi zat besi.

  • Fungsi Enzimatik: Selain seruloplasmin, tembaga adalah kofaktor penting bagi enzim-enzim vital seperti sitokrom oksidase (respirasi sel), tirosinase (pembentukan pigmen), dan superoksida dismutase (antioksidan).

Gangguan Klinis Terkait Tembaga

Ketidakseimbangan metabolisme tembaga dapat memicu kondisi patologis serius yang bersifat genetik:

  • Penyakit Menkes (Menkes Disease): Kelainan genetik terkait kromosom X di mana tubuh gagal mendistribusikan tembaga dari sel usus ke seluruh tubuh. Akibatnya, terjadi defisiensi tembaga sistemik yang parah. Ciri khasnya adalah rambut yang kaku dan rapuh (seperti sabut baja/ kinky hair).

  • Penyakit Wilson (Wilson's Disease): Kelainan genetik resesif di mana hati gagal membuang kelebihan tembaga ke dalam empedu atau menggabungkannya ke seruloplasmin. Akibatnya, tembaga menumpuk secara toksik di hati, otak, ginjal, dan kornea mata (membentuk cincin Kayser-Fleischer). Gejala dapat berupa kerusakan hati (sirosis) dan gangguan neurologis.

  • Toksisitas Akut: Keracunan tembaga dapat bermanifestasi sebagai diare dengan warna feses biru-hijau, hemolisis akut (pecahnya sel darah merah), dan gagal ginjal.

Kesimpulan

Meskipun trace elements hanya menyusun sebagian kecil dari berat tubuh kita, keberadaannya sangat menentukan kualitas kesehatan. Keseimbangan asupan melalui diet yang beragam adalah kunci untuk mencegah defisiensi maupun toksisitas unsur-unsur mikro ini.


Referensi: Tinjauan Pustaka Biokimia & Nutrisi Klinis (Update 2024).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar