Mekanisme Kerja Biokimia Secara garis besar, fluorida bekerja melalui dua jalur utama dalam menjaga kesehatan gigi:
Regulasi Mineralisasi: Fluorida membantu mempercepat proses remineralisasi (pengembalian mineral) pada email gigi yang mulai rapuh dan menghambat proses demineralisasi (pelarutan mineral) saat kondisi mulut asam.
Aktivitas Antibakteri (Inhibisi Enzim Enolase): Bakteri penyebab gigi berlubang, seperti Streptococcus mutans, memetabolisme karbohidrat (sukrosa, manitol, sorbitol) untuk menghasilkan energi dan asam.
- S. mutans memproduksi glukan (polisakarida ekstraseluler) yang bersifat lengket dan tidak larut, yang menjadi komponen utama pembentukan plak gigi.
- Dalam proses metabolismenya, bakteri ini menggunakan sistem phosphotransferase untuk memasukkan sukrosa ke dalam sel dengan bantuan phosphoenolpyruvate (PEP).
- Peran Fluorida: Fluorida bekerja dengan cara menghambat kerja enzim enolase. Terhambatnya enzim ini mengganggu proses glikolisis bakteri, sehingga sintesis PEP terhenti. Akibatnya, transportasi sukrosa ke dalam sel bakteri terganggu dan bakteri mengalami kekurangan sumber energi (karbon), yang pada akhirnya menekan produksi asam yang merusak gigi.
Peran dalam Pembentukan Gigi (Amelogenesis) Pada masa pertumbuhan gigi, fluorida berinteraksi dengan proses biologis pembentukan struktur gigi. Proses kalsifikasi primer melibatkan diferensiasi sel:
- Ektomesenkim membentuk odontoblast (pembentuk dentin).
- Epitel di atasnya terinduksi menjadi ameloblast (pembentuk email). Kedua sel ini memproduksi matriks protein yang menjadi dasar pengendapan kalsium dan fosfat untuk membentuk struktur keras gigi. Kehadiran fluorida dalam jumlah optimal selama fase ini dapat memperkuat struktur kristal gigi yang terbentuk.
Sumber dan Toksikologi Asupan fluorida dapat diperoleh secara topikal (pasta gigi, obat kumur) maupun sistemik (air minum terfluoridasi, suplemen tablet, makanan). Namun, penggunaan fluorida memiliki batas keamanan yang ketat (indeks terapeutik yang sempit).
Toksisitas Akut: Keracunan fluorida akut dapat terjadi jika tertelan dalam dosis besar secara sekaligus.
- Catatan Medis Terkini: Dosis Toksik Mungkin (Probable Toxic Dose/PTD) yang memerlukan intervensi medis segera umumnya ditetapkan pada 5 mg/kg Berat Badan. Angka 30 mg/kg BB (seperti pada referensi lama) dan 50 mg/kg BB (Dosis Letal) adalah dosis yang sangat berbahaya dan berpotensi fatal. Gejala awal dapat berupa mual, muntah, dan gangguan gastrointestinal.
Toksisitas Kronis (Fluorosis): Paparan fluorida berlebih secara terus-menerus selama masa pembentukan email gigi dapat menyebabkan gangguan amelogenesis. Kondisi ini disebut Fluorosis Gigi, yang bermanifestasi klinis berupa:
Mottled enamel (bercak putih seperti kapur hingga kecoklatan pada gigi).
- Enamel hypoplasia (pembentukan email yang tidak sempurna/berlubang).
Kesimpulan Fluorida adalah "pedang bermata dua" dalam ilmu kedokteran gigi. Pada dosis optimal, ia adalah pelindung gigi yang sangat efektif melalui mekanisme penghambatan enzim bakteri dan penguatan struktur mineral. Namun, pengawasan terhadap dosis asupan sangat diperlukan untuk mencegah efek toksik baik secara akut maupun kronis.
Catatan: Artikel ini telah memutakhirkan informasi mengenai ambang batas toksisitas untuk keamanan (safety) sesuai standar toksikologi modern, di mana kewaspadaan klinis dimulai pada dosis 5 mg/kg berat badan.

Thank you... ありがとうございます。
BalasHapus