Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

20/10/2026

Gigi Tetap Tumbuh Tapi Gigi Susu Belum Goyang? Ini Penyebabnya!

Anak membuka mulut memperlihatkan gigi seri bawah permanen yang tumbuh bertumpuk tepat di belakang gigi susu

Terakhir Diperbarui: 16 Juli 2026 | Target Audiens: Orang Tua, Dokter Gigi Umum | Tingkat Kesulitan: Mudah | Waktu Baca: ± 8 Menit

Menjelang usia 6 hingga 7 tahun, banyak orang tua yang menanti-nanti momen anak mereka menjadi "ompong" untuk pertama kalinya. Biasanya, gigi seri bawah anak akan mulai goyang, lepas, dan kemudian digantikan oleh gigi permanen yang baru.

Namun, skenario yang cukup sering terjadi justru membuat orang tua panik: saat sedang menyikat gigi anak, tiba-tiba terlihat ada gigi baru yang sudah menyembul di belakang gigi susu bagian bawah, padahal gigi susu di depannya sama sekali belum goyang! Akibatnya, anak tampak memiliki dua baris gigi yang tumpang tindih, mirip seperti susunan gigi hiu (Shark Teeth).

Bolehkah gigi ini dibiarkan? Apakah gigi baru tersebut akan selamanya berada di posisi yang salah dan membuat rahang anak berantakan? Jangan panik, mari kita pahami proses biologis di balik fenomena ini dan tindakan apa yang sebaiknya diambil.

Bagaimana Normalnya Gigi Susu Tanggal?

Untuk memahami mengapa gigi bertumpuk bisa terjadi, kita harus tahu dulu bagaimana cara kerja tubuh secara normal.

Di dalam gusi anak, tepat di bawah akar gigi susu, terdapat benih gigi permanen yang sedang berkembang. Ketika benih gigi permanen ini mulai bergerak naik untuk tumbuh (erupsi), ia akan menekan akar gigi susu yang ada di atasnya. Tekanan konstan ini memicu proses biologis yang disebut Resorpsi Akar, yaitu melarutnya akar gigi susu secara perlahan.

Ketika akar gigi susu habis diserap oleh tubuh, mahkota giginya akan kehilangan pegangan pada tulang rahang. Inilah yang membuat gigi susu terasa goyang. Semakin gigi permanen naik, semakin goyang pula gigi susu, hingga akhirnya lepas hanya dengan sentuhan ringan.

Ilustrasi benih gigi permanen yang tumbuh melenceng sehingga gagal mengikis dan melarutkan akar gigi susu di atasnya

3 Alasan Mengapa Gigi Susu Tidak Mau Goyang

Lalu, mengapa ada gigi permanen yang "menyalip" tumbuh padahal pendahulunya belum lepas? Kondisi ini dalam istilah medis disebut sebagai Persistensi Gigi Desidui atau Erupsi Ektopik. Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:

  1. Jalur Tumbuh yang Melenceng (Erupsi Ektopik): Alih-alih tumbuh lurus ke atas, benih gigi permanen terkadang mengambil jalur membelok ke arah dalam (mendekati lidah). Karena posisinya di belakang, gigi permanen ini gagal menekan dan melarutkan akar gigi susu. Akibatnya, akar gigi susu tetap panjang, kuat, dan tidak goyang sama sekali.
  2. Kekurangan Ruang Rahang (Crowding): Gigi permanen ukurannya lebih besar dari gigi susu. Jika lengkung rahang anak sempit, gigi permanen tidak memiliki ruang yang cukup untuk masuk ke barisan, sehingga ia terpaksa mencari "jalan tikus" dan tumbuh di ruang kosong bagian belakang gusi.
  3. Kepadatan Tulang atau Jaringan Gusi: Kadang-kadang, gusi atau tulang rahang di sekitar gigi susu terlalu padat sehingga menghalangi proses pergerakan gigi permanen ke posisi idealnya.

Alur Keputusan Klinis dan Rencana Perawatan di Klinik Gigi

Dokter gigi anak sedang memeriksa gigi susu yang persisten sebelum memutuskan tindakan pencabutan

Banyak orang tua yang mencoba menggoyang-goyangkan gigi susu yang keras secara paksa di rumah, yang sering kali berakhir dengan anak menangis karena sakit. Membawa anak ke dokter gigi adalah langkah paling bijak. Berikut adalah alur penanganan medis untuk kasus Shark Teeth:

  • Anamnesis (Wawancara Medis): Orang tua membawa anak (usia 6,5 tahun) dengan keluhan adanya gigi baru yang tumbuh di rahang bawah bagian dalam. Orang tua terlihat khawatir karena gigi susunya tidak kunjung goyang dan takut gigi permanen anak tumbuh berantakan permanen. Anak menyatakan tidak ada rasa sakit, hanya merasa ada yang mengganjal di lidah.
  • Pemeriksaan Klinis dan Temuan Klinis:

    • Pemeriksaan Intraoral: Ditemukan gigi insisivus sentral permanen rahang bawah (gigi 31 dan 41) telah erupsi (menyembul sebagian) di posisi lingual (ke arah dalam/lidah).
    • Gigi insisivus sentral desidui (gigi susu 71 dan 81) yang berada tepat di depannya masih utuh dan berada di posisinya. Saat dilakukan tes mobilitas (kegoyangan), didapati gigi susu tersebut memiliki derajat kegoyangan nol (tidak goyang sama sekali) atau kegoyangan sangat ringan (derajat 1).
    • Tidak ditemukan tanda-tanda pembengkakan gusi, infeksi, atau karies parah pada area tersebut. Ruang rahang (arch length) tampak cukup berdesakan.
  • Diagnosis: Persistensi Gigi Desidui (gigi 71, 81) disertai Erupsi Ektopik Insisivus Permanen Mandibula.
  • Rencana Perawatan: Perawatan berfokus pada pemberian jalan/ruang bagi gigi permanen:

    1. Edukasi (DHE): Menenangkan orang tua bahwa kondisi ini wajar dan gigi permanen akan bergerak ke depan secara alami oleh dorongan otot lidah setelah penghalang (gigi susu) dihilangkan.
    2. Tindakan Kuratif (Ekstraksi): Karena gigi susu tidak goyang secara alami dan menghalangi posisi gigi permanen, dokter gigi akan melakukan Pencabutan (Ekstraksi) pada gigi susu 71 dan 81. Prosedur ini didahului dengan pengaplikasian anestesi topikal (gel kebas) dan dilanjutkan dengan anestesi infiltrasi (suntikan lokal) agar anak tidak merasa sakit saat akar yang masih utuh tersebut dicabut.
    3. Terapi Miofungsional Ringan (Instruksi Pasca-Cabut): Dokter menginstruksikan anak agar membiasakan diri mendorong-dorong gigi permanen yang ada di belakang tadi ke arah depan menggunakan lidahnya (tongue push). Dorongan alami lidah ini akan merapikan gigi permanen ke dalam lengkung rahang dalam beberapa minggu hingga bulan.
    4. Evaluasi Ortodonti: Pasien dijadwalkan untuk kontrol rutin, dan jika rahang terbukti terlalu sempit hingga fase pergantian gigi selanjutnya, dokter dapat merencanakan penggunaan alat ortodonti ringan (seperti plat ekspansi) di masa depan.

Kesimpulan: Jangan Terburu-buru Panik!

Fenomena "Gigi Hiu" atau gigi tumbuh bertumpuk adalah kejadian medis yang sangat umum pada fase pergantian gigi, terutama di gigi seri bawah. Kondisi ini sangat jarang menjadi situasi kegawatdaruratan. Jika gigi susu sudah mulai goyang, Anda bisa mendorong anak untuk menggoyangkannya perlahan dengan lidah atau jari bersih (jangan dipaksa) sambil menunggu beberapa minggu.

Namun, jika gigi permanen sudah tumbuh cukup tinggi (hampir sejajar) sementara gigi susu pendahulunya kokoh bak batu karang, jangan tunda lagi kunjungan ke klinik. Pencabutan gigi susu yang terencana dan tanpa rasa sakit oleh dokter gigi akan langsung memberikan ruang bebas bagi gigi baru, membiarkan otot lidah bekerja bak kawat gigi alami yang akan mendorong gigi anak Anda kembali sejajar dan rapi!

Sumber / Referensi Valid 100%:

  1. American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). (2021). Management of the Developing Dentition and Occlusion in Pediatric Dentistry. Chicago: AAPD Reference Manual. Literatur pedoman kebijakan klinis yang menetapkan observasi atau ekstraksi sebagai tata laksana utama pada persistensi gigi sulung, khususnya erupsi ektopik insisivus mandibula.
  2. Gellin, M. E. (1989). Anterior tooth crossbites and ectopic eruption of mandibular incisors. Dental Clinics of North America, 33(2), 223-231. Jurnal ortodonti pediatrik klasik yang menjelaskan patofisiologi erupsi lingual gigi seri bawah (shark teeth) dan pergerakan spontan ke arah labial akibat tekanan otot lidah setelah ekstraksi gigi sulung.
  3. Dean, J. A. (2021). McDonald and Avery's Dentistry for the Child and Adolescent (11th Edition). Elsevier. Buku teks literatur utama kedokteran gigi pediatrik yang mengulas mekanisme root resorption (resorpsi akar) fisiologis serta faktor penyimpangan jalur benih gigi penyebab persistensi.
  4. Proffit, W. R., Fields, H. W., Larson, B., & Sarver, D. M. (2018). Contemporary Orthodontics (6th Edition). Elsevier. Panduan emas ortodonti modern yang menjabarkan teori equilibrium rongga mulut, memvalidasi bahwa lidah akan memberikan gaya dorong alami untuk mereposisi gigi permanen pasca pencabutan gigi persistensi.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). (2022). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Gigi. Jakarta: Kemenkes RI. Standar operasional layanan medis yang memandatkan tindakan ekstraksi gigi desidui persistensi menggunakan anestesi lokal infiltrasi untuk mengantisipasi hambatan ruang dan mencegah maloklusi pada fase geligi pergantian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar