Tindakan pencabutan gigi, meskipun merupakan prosedur rutin dalam kedokteran gigi, memiliki risiko komplikasi yang perlu diwaspadai, salah satunya adalah cedera saraf (nerve injury). Cedera ini umumnya terjadi pada cabang divisi ketiga dari saraf trigeminus, yaitu nervus mandibularis. Pemahaman mengenai anatomi dan potensi risiko pada area ini sangat krusial baik bagi praktisi medis dalam melakukan tindakan, maupun bagi pasien untuk memahami kompleksitas perawatan yang dijalani.
Kerentanan Nervus Alveolaris Inferior
Salah satu saraf yang memiliki risiko cedera cukup tinggi adalah nervus alveolaris inferior. Secara anatomis, saraf ini terletak sangat berdekatan dengan area ujung akar (apikal) gigi molar ketiga (gigi bungsu) rahang bawah, dan terkadang juga dekat dengan gigi molar kedua.
Meskipun terputusnya saraf ini secara total relatif jarang terjadi, tekanan yang kuat selama prosedur pencabutan gigi molar ketiga—baik yang sudah erupsi maupun yang mengalami impaksi—dapat memicu trauma. Cedera dapat timbul akibat manuver pengeluaran gigi, ujung akar, atau serpihan fragmen akar yang menekan saluran saraf tersebut.
Risiko pada Nervus Lingualis
Nervus lingualis merupakan saraf yang paling sering mengalami cedera pada prosedur odontektomi atau pencabutan gigi molar ketiga bawah yang impaksi. Mekanisme cedera sering kali disebabkan oleh pembukaan flap (jaringan lunak) di sisi lingual, terjadinya fraktur pada tulang lingual, atau penetrasi mata bur yang menembus korteks lingual saat proses pemecahan gigi.
Perlu diketahui bahwa nervus lingualis menempel pada aspek medial tulang rahang bawah (mandibula) di regio molar. Variasi anatomi pada beberapa kasus menunjukkan posisi saraf ini berada cukup tinggi, tepat di bawah batas mukosa cekat, sehingga meningkatkan risiko trauma jika tidak diidentifikasi dengan cermat.
Identifikasi Nervus Mentalis
Pada regio gigi premolar, terdapat nervus mentalis yang letaknya berhubungan erat dengan ujung akar gigi tersebut. Saraf ini memiliki cabang anterior yang mempersarafi bibir bawah dengan posisi yang relatif dangkal (superfisial). Karakteristik ini membuat nervus mentalis rentan terhadap cedera, terutama terpotong saat pembuatan insisi flap atau mengalami trauma regangan akibat retraksi jaringan yang berlebihan.
Perhatian khusus diperlukan pada kondisi rahang tak bergigi yang telah mengalami atrofi (penyusutan tulang) akibat hilangnya tulang alveolar (dehisensi). Pada kondisi ini, posisi nervus alveolaris inferior, nervus lingualis, dan nervus mentalis dapat menjadi sangat superfisial atau menempel pada dasar mandibula, sehingga risiko cedera menjadi lebih besar.
Deteksi Dini dan Penanganan Cedera
Tantangan utama dalam kasus cedera saraf sensorik adalah sulitnya identifikasi masalah saat operasi berlangsung (intraoperatif). Sering kali, pasien baru menyadari adanya kelainan sensasi (seperti baal atau kesemutan) setelah efek anestesi hilang, tanpa adanya tanda klinis yang terlihat sebelumnya.
Rujukan segera dan penanganan dini sangat menentukan prognosis kesembuhan. Apabila kontinuitas serabut saraf masih terjaga, sensasi normal biasanya akan kembali dalam kurun waktu 2 hingga 6 bulan. Namun, jika pemulihan tidak terjadi dalam periode tersebut, kemungkinan untuk kembali normal sangatlah kecil. Opsi perawatan medis yang dapat dilakukan meliputi dekompresi, eksisi, anastomosis ulang, atau pencangkokan saraf (nerve graft).
Karena dampaknya yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien, cedera saraf ini sering menjadi sumber ketidakpuasan pasien dan berpotensi memicu tuntutan medikolegal. Oleh karena itu, komunikasi, kehati-hatian, dan penanganan yang tepat sangatlah esensial.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar