Gigi Anak

Merawat Senyum Si Kecil dan Keluarga Tercinta

10/06/2011

Penatalaksanaan Pasien dengan Gangguan Kejang: Panduan Komprehensif Medis dan Dental

Oleh: Vika Asriningrum Berdasarkan Journal Reading Departemen Bedah Mulut Universitas Gadjah Mada dengan Pembimbing drg. E. Riyati, M.Kes, Sp.BM.

Pendahuluan

Kejang merupakan gangguan fungsi otak involunter temporer yang memanifestasikan diri dalam bentuk gangguan kesadaran, aktivitas motorik abnormal, hingga disfungsi otonom. Diperkirakan sekitar 0,3% – 0,7% populasi mengalami kelainan kejang, dengan prevalensi tinggi pada anak-anak usia 2–5 tahun serta individu di atas usia 50 tahun.

Bagi praktisi dokter gigi, memahami manajemen pasien dengan riwayat kejang bukan sekadar menambah wawasan, melainkan sebuah kewajiban klinis guna menjamin keselamatan pasien dan kenyamanan selama prosedur perawatan dental.

Klasifikasi dan Karakteristik Kejang

Secara klinis, kejang diklasifikasikan berdasarkan asal aktivitas elektrik di otak:

  1. Kejang Parsial (Lokalisata): Terbagi menjadi simpel (tanpa kehilangan kesadaran) dan kompleks (disertai gangguan kesadaran).

  2. Kejang Umum (Generalized): Melibatkan seluruh belahan otak. Bentuk yang paling sering ditemui adalah Tonic-Clonic (Grand Mal) yang ditandai dengan kekakuan otot diikuti kontraksi hebat, serta Absence Seizures (Petit Mal) yang sering menyerupai episode melamun singkat.

  3. Status Epileptikus: Kondisi darurat medis di mana kejang terjadi berulang tanpa adanya jeda pemulihan. Kondisi ini memerlukan intervensi medis segera karena berisiko menyebabkan kerusakan saraf permanen dan gagal napas.

Farmakoterapi Antikonvulsan dan Implikasi Dental

Penggunaan obat-obatan antiepilepsi memiliki efek samping sistemik maupun oral yang harus diantisipasi oleh dokter gigi:

  • Fenitoin (Dilantin): Sering menyebabkan hiperplasia gingiva (pembesaran gusi). Kebersihan mulut yang buruk secara signifikan memperparah kondisi ini. Selain itu, fenitoin dapat memengaruhi metabolisme vitamin D yang berisiko pada kelainan tulang.
  • Karbamazepin: Tidak menyebabkan hiperplasia gingiva, namun memiliki interaksi obat yang perlu diperhatikan. Penggunaan bersama eritromisin atau propoksifen dapat meningkatkan kadar karbamazepin dalam darah hingga level toksik.
  • Asam Valproat: Dapat menurunkan fungsi platelet. Oleh karena itu, penggunaan analgetik golongan NSAID seperti Aspirin dan Ibuprofen harus dihindari karena risiko perdarahan meningkat.

Protokol Penanganan Darurat di Ruang Praktik

Jika terjadi serangan kejang saat perawatan gigi berlangsung, langkah-langkah berikut harus segera dilakukan:

  1. Amankan Pasien: Posisikan kursi gigi pada posisi supinasi (datar) sedekat mungkin dengan lantai.

  2. Lindungi dari Cedera: Jauhkan instrumen tajam. Jangan memasukkan benda apa pun (seperti tongue blade atau penyangga mulut) ke dalam mulut pasien karena berisiko mematahkan gigi atau mencederai operator.

  3. Manajemen Jalan Napas: Miringkan kepala pasien untuk mencegah aspirasi sekret dan gunakan suction jika diperlukan.

  4. Observasi Pasca-Kejang: Pasien biasanya mengalami fase postictal (bingung dan lemas). Jangan memulangkan pasien hingga kesadaran pulih sepenuhnya dan pastikan ada pendamping.

Pertimbangan Restoratif dan Bedah

Dalam hal rehabilitasi gigi, gigi tiruan cekat (seperti bridge) lebih dianjurkan dibandingkan gigi tiruan lepasan untuk meminimalisir risiko tersedak atau patahnya protesa saat kejang. Penggunaan rangka logam pada gigi tiruan juga sangat disarankan untuk meningkatkan kekuatan mekanis.


Sesi Tanya Jawab (Seminar Update)

Pertanyaan (Hanna): Bagaimana dengan penggunaan anestesi? Jenis anestesi apa yang aman untuk penderita epilepsi? Jawaban: Secara umum, anestesi lokal dengan vasokonstriktor (seperti lidokain dengan adrenalin) tidak dikontraindikasikan secara mutlak, selama dosisnya dalam batas aman dan aspirasi dilakukan dengan benar untuk menghindari injeksi intravaskular. Namun, pada pasien yang tidak terkontrol, penggunaan anestesi umum atau sedasi mungkin diperlukan di bawah pengawasan dokter spesialis anestesi di fasilitas rumah sakit.

Pertanyaan (Yanuarti): Bagaimana cara mencurigai atau mendiagnosis pasien menderita epilepsi secara bijaksana? Jawaban: Kuncinya ada pada anamnesis yang empatik. Alih-alih bertanya langsung "Apakah Anda menderita epilepsi?", dokter dapat menanyakan daftar obat yang sedang dikonsumsi atau menanyakan riwayat pingsan/kejang secara umum. Jika pasien menyebutkan obat seperti Fenitoin atau Karbamazepin, dokter harus menindaklanjuti dengan menanyakan frekuensi serangan terakhir dan faktor pemicunya.

Pertanyaan (Hanna): Apakah obat anti-epilepsi harus diminum terus-menerus? Jawaban: Benar. Sama halnya dengan manajemen penyakit kronis seperti hipertensi, kepatuhan minum obat adalah harga mati untuk mencegah terjadinya Status Epileptikus. Dokter gigi harus memastikan pasien telah meminum obat rutinnya sebelum memulai prosedur dental yang bersifat stresor.


Referensi Utama: Sanders BJ, Weddel JA, Dodge NN. Managing Patients Who Have Seizure Disorders: Dental and Medical Issues. J Am Dent Assoc 1995; 126: 1641–7.

Catatan Tambahan (Update Pengetahuan): Penelitian terbaru menekankan pentingnya manajemen stres di kursi gigi sebagai pemicu (trigger) kejang. Penggunaan teknik sedasi sadar (conscious sedation) kini semakin banyak dipertimbangkan untuk pasien dengan ambang kejang yang rendah guna memastikan prosedur berjalan aman.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Little JW, Falace DA. Dental management of the medically compromised patient. 3rd ed. Chicago: Mosby-Yearbook; 1988:279 – 90.
  2. Treiman DM. Current treatment strategies on selected situations in epilepsy. Epilepsia 1993; 34 (Supplement 65): 517 – 23.
  3. Cohen DW, ed. A symposium: the oral manifestations of gingival hyperplasia. Compendium Contin Educ Dent 1990; Supplement 14: S490 – S514.
  4. Hirtz DG, Nelson KB. The natural history of febrile seizures. Ann Rev Med 1983;34: 453 – 71.
  5. Milikan CH, ed. Seizure disorders: clinical management. Part II. Detroit: Perke-Davis; 1976: 6 – 23.
  6. Konig SA. Severe hepatotoxicity during valproate therapy: an update and report on eight new facilities. Epilepsia 1994; 35 (5): 1005 – 15.
  7. Harden CL. New antiepileptic drugs. Neurology 1994; 44 (5): 787 – 95.
  8. Malamed SF. Managing medical emergencies. JADA. 1993; 124 (8): 40 – 51.
  9. Selbst SM. Office management of status epilepticus. Pediatr Emerg Care 1991; 7 (2): 106 – 9.
  10.  Pellock JM. Status epilepticus in children: update and review. J Child Neurol 1994; 9 (Supplemet 2): S27 – 35.
  11. Rucker LM. Prosthetic treatment for the patient with uncontrolled grand mal epileptic seizures. Spec Care Dentist 1985; 5 (5): 206 – 7.
  12. Braham RL, Cassamassimo PS, Nowak AJ, Posnick WR, Steinberg AD. The dental implications of epilepsy. Rockville, Md.: U.S. Department of Health Education and Welfare, 1997; DHEW publication no HSA78 – 5217.
  13. Stinnet E, Rodu B, Grizzle WE. New development in understanding phenytoin-induced gingival hyperplasia. JADA 1987; 114: 814 – 6.
  14. Thomason JM, Seymour RA, Rawlins MD. Incidence and severity of phenytoin induced gingival overgrowth in epileptic patients in general medical practice. Community Dent Oral Epidemiol 1992; 20: 288 – 91.
  15. Modeer T, Dahloff G. Development of phenytoin-induced gingival overgrowth in non-institutionalixed epileptic children subjected to different plaque control programs. ACTA Odontol Scandl 1987; 45 (2) : 81 – 5.
  16. Dahloff G, Axio E, Modeer T. Regression of phenytoin-induced gingival overgrowth after withdrawal of medication. Swed Dent J 1991; 15 (3): 139 – 43.
  17. Jones JE, Weddel JA, McKown CG. Incidence and indications for surgical management of phenytoin-induced gingival overgrowth in a cerebral palsy population. J Oral Maxillofac Surg 1988; 46: 385 – 90.
  18. Steinberg AD. Clinical management of phenytoin-induced gingival overgrowth in handicapped children. Pediatr Dent 1981; 3 (Special Issue): 130 – 6.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar