Dalam tinjauan biokimia medis, Magnesium (Mg) menempati posisi yang sangat strategis sebagai kation intraseluler terbanyak kedua di dalam tubuh manusia. Keberadaannya bukan sekadar pelengkap, melainkan komponen fundamental bagi kehidupan seluler.
Magnesium terlibat dalam lebih dari 300 sistem enzim yang mengatur beragam reaksi biokimia dalam tubuh. Salah satu peran paling vitalnya adalah dalam metabolisme energi. Dalam reaksi pembentukan energi yang melibatkan Adenosin Trifosfat (ATP), substrat aktif yang sesungguhnya bukanlah ATP semata, melainkan kompleks Mg-ATP.
Fungsi Fisiologis Tingkat Seluler
Magnesium bekerja dengan cara dikhelasi (diikat) di antara gugus fosfat beta dan gamma pada molekul ATP. Ikatan ini mengurangi kepadatan muatan anionik pada ATP, yang memungkinkan molekul tersebut untuk mendekati dan berikatan secara reversibel dengan situs protein spesifik.
Implikasi dari mekanisme ini sangat luas. Hampir seluruh proses anabolik (pembentukan) dalam tubuh sangat bergantung pada keberadaan magnesium, meliputi:
Sintesis protein.
Sintesis asam nukleat (DNA dan RNA) serta nukleotida.
Metabolisme lipid dan karbohidrat.
Aktivasi kontraksi otot dan transmisi impuls saraf.
Metabolisme: Absorpsi dan Ekskresi
Keseimbangan magnesium dalam tubuh (homeostasis) dijaga ketat melalui mekanisme absorpsi dan ekskresi:
Absorpsi: Penyerapan magnesium terjadi di sepanjang usus halus (traktus gastrointestinal). Efisiensi penyerapan ini dapat dipengaruhi oleh status magnesium tubuh dan faktor diet lainnya.
Distribusi Plasma: Di dalam plasma darah, sebagian besar magnesium terdapat dalam bentuk terionisasi atau terikat kompleks yang dapat difiltrasi oleh glomerulus ginjal.
Ekskresi: Ginjal memegang peranan kunci dalam regulasi magnesium. Sekitar 35% - 45% dari asupan harian magnesium diekskresikan melalui urine. Ginjal memiliki kemampuan untuk menahan magnesium saat tubuh kekurangan, atau membuangnya saat terjadi kelebihan.
Implikasi Klinis: Toksisitas
Meskipun magnesium sangat penting, keseimbangannya harus terjaga.
Kondisi Fisiologis Normal: Pada individu dengan fungsi ginjal yang sehat, keracunan (toksisitas) magnesium sangat jarang terjadi karena ginjal efektif membuang kelebihannya.
Kondisi Patologis: Pada pasien dengan gagal ginjal atau insufisiensi ginjal, kemampuan ekskresi ini menurun. Akibatnya, dapat terjadi penumpukan magnesium dalam darah yang disebut Hipermagnesemia.
Gejala klinis dari hipermagnesemia didominasi oleh efek depresan pada sistem saraf pusat (SSP), yang dapat bermanifestasi sebagai kelemahan otot, hilangnya refleks tendon, hipotensi, hingga depresi pernapasan pada kasus yang berat.
Referensi: Tinjauan Pustaka Biokimia (2009).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar